Internationalmedia.co.id – News – Suasana di Jalur Gaza kembali mencekam setelah militer Israel melancarkan serangan udara yang menargetkan sebuah kendaraan polisi, menewaskan delapan orang. Insiden mematikan ini terjadi di kota Zawaida, Gaza tengah, pada Minggu (15/3/2026), memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas gencatan senjata yang rapuh di wilayah tersebut.
Pihak Rumah Sakit Al-Aqsa di Deir al-Balah mengonfirmasi kedatangan delapan "martir" akibat penargetan kendaraan polisi tersebut. Kementerian Dalam Negeri Gaza yang dikelola Hamas kemudian membenarkan bahwa seluruh korban tewas adalah anggota kepolisian, termasuk Kepala Polisi Gaza tengah, Kolonel Iyad Abu Yousef, yang turut menjadi korban dalam serangan brutal ini.

Ketika dimintai keterangan mengenai insiden ini, militer Israel menyatakan sedang menyelidiki laporan tersebut. Peristiwa tragis ini menambah daftar panjang kekerasan di wilayah Palestina yang porak-poranda akibat konflik, meskipun gencatan senjata telah diberlakukan sejak 10 Oktober. Baik Israel maupun Hamas secara rutin saling menuduh melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut.
Sebelumnya pada hari yang sama, badan pertahanan sipil Gaza, yang berfungsi sebagai pasukan penyelamat di bawah otoritas Hamas, melaporkan empat orang lainnya tewas dalam serangan Israel terpisah di kamp pengungsi Nuseirat, di tengah wilayah tersebut. Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengecam keras pemboman tersebut, menyebutnya sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata".
Kematian terbaru ini terjadi di tengah momen sensitif, di mana sebuah sumber Hamas mengonfirmasi bahwa delegasi mereka berada di Kairo untuk bertemu dengan pejabat Mesir. Selain itu, delegasi tersebut juga dijadwalkan bertemu dengan politisi Bulgaria Nickolay Mladenov, yang ditunjuk sebagai perwakilan tinggi untuk Gaza di bawah Dewan Perdamaian Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dewan Perdamaian ini dibentuk setelah pemerintahan Trump, bersama mediator lama Qatar dan Mesir, berhasil menengahi gencatan senjata untuk menghentikan perang yang telah menghancurkan Gaza selama dua tahun.

