Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa ketegangan di Gaza kembali memuncak setelah Israel dituding melanggar gencatan senjata. Serangan terbaru ini merenggut setidaknya 12 nyawa warga Palestina, menambah daftar panjang korban konflik yang tak kunjung usai.
Insiden tragis ini terjadi di tengah gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat, yang seharusnya telah memasuki fase kedua sejak bulan lalu. Namun, seperti yang dilansir AFP, kekerasan justru terus membayangi wilayah Palestina. Laporan terbaru yang dihimpun Internationalmedia.co.id menunjukkan bahwa pada Minggu (15/2), rentetan serangan udara dan darat Israel dalam kurun waktu 24 jam telah menewaskan sedikitnya 10 orang, sebelum kemudian angka korban melonjak menjadi 12 jiwa.

Menurut keterangan Badan Pertahanan Sipil Gaza, yang beroperasi sebagai tim penyelamat di bawah otoritas Hamas, dua serangan utama menjadi penyebab jatuhnya korban jiwa. Salah satu serangan brutal menghantam tenda pengungsian di Jabalia, Gaza utara, merenggut lima nyawa dan melukai beberapa lainnya. Di saat yang hampir bersamaan, lima warga sipil lainnya tewas dan sejumlah orang luka-luka akibat serangan terpisah yang menyasar kota Khan Yunis di wilayah selatan.
Laporan tambahan dari Badan Pertahanan Sipil Gaza juga mencatat satu korban tewas akibat penembakan oleh pasukan Israel di Kota Gaza, serta satu korban lainnya di Beit Lahia, Gaza utara. Pihak Rumah Sakit Al-Shifa dan Nasser telah mengonfirmasi penerimaan setidaknya tujuh jenazah korban dari berbagai insiden tersebut, menggarisbawahi skala kekejaman yang terjadi.
Kekecewaan mendalam dan kemarahan tak terbendung diungkapkan oleh Osama Abu Askar, seorang warga Gaza yang kehilangan keponakannya dalam serangan di Jabalia. Dengan nada getir, ia menyatakan, "Israel tidak memahami gencatan senjata atau perdamaian." Abu Askar menambahkan, "Warga Gaza dibunuh saat mereka tidur," menggambarkan betapa rentannya kehidupan di tengah konflik yang tak berkesudahan.

