Internationalmedia.co.id – News – Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran, menyusul wafatnya sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel, telah memicu gelombang reaksi internasional. Pemerintah China segera menyatakan sikapnya, menegaskan bahwa suksesi ini adalah murni masalah domestik Iran dan menentang segala bentuk intervensi atau ancaman terhadap pemimpin baru tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, pada Senin (9/3) di Beijing, menegaskan kepada wartawan bahwa keputusan Iran untuk menunjuk putra Khamenei didasarkan pada konstitusi negara itu. "China menentang campur tangan dalam urusan internal negara lain dengan dalih apa pun, dan kedaulatan, keamanan, serta integritas teritorial Iran harus dihormati," ujar Guo menanggapi pertanyaan mengenai ancaman yang ditujukan kepada pemimpin baru Iran.

Ancaman tersebut bukan tanpa alasan. Sebelumnya, militer Israel telah mengeluarkan peringatan akan menargetkan setiap pengganti Ayatollah Ali Khamenei. Bahkan, mantan Presiden AS Donald Trump sempat menganggap Mojtaba Khamenei sebagai "tokoh yang tidak berpengaruh" dan bersikeras ingin memiliki suara dalam penunjukan pemimpin Iran yang baru, sebuah pernyataan yang kini kembali menjadi sorotan.
Sebagai mitra dekat Teheran, Beijing telah mengutuk keras pembunuhan Khamenei senior. Namun, di sisi lain, China juga tidak segan mengkritik serangan Iran terhadap negara-negara Teluk, menunjukkan posisi diplomatik yang kompleks di kawasan tersebut.
Utusan China untuk Timur Tengah, Zhai Jun, pada Minggu (8/3) telah mendesak de-eskalasi saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan. "China mendesak semua pihak untuk segera menghentikan operasi militer, mencegah eskalasi ketegangan lebih lanjut, dan menghindari kerugian yang lebih besar bagi rakyat negara-negara di kawasan," kata Zhai Jun. Senada, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, juga menyerukan diakhirinya pertempuran, menegaskan bahwa perang "seharusnya tidak pernah terjadi." Pernyataan ini menggarisbawahi kekhawatiran Beijing terhadap stabilitas regional di tengah gejolak suksesi kepemimpinan Iran.

