Serangan mendadak Amerika Serikat dan Israel ke Iran, yang berujung pada gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, telah mengguncang stabilitas Timur Tengah. Peristiwa tragis ini sontak mengalihkan perhatian global ke dua sekutu utama Teheran: Rusia dan Tiongkok. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, hubungan diplomatik, perdagangan, dan militer yang erat antara Teheran dengan Moskow dan Beijing telah lama terjalin. Kini, agresi terbaru dari Washington dan Tel Aviv ini menjadi tolok ukur seberapa besar komitmen dukungan kedua kekuatan global tersebut terhadap sekutunya.
Rusia di Persimpangan Jalan

Moskow segera melontarkan kecaman keras. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, tidak menyembunyikan "kekecewaan mendalam" Moskow, menyoroti bagaimana perundingan antara Washington dan Teheran justru berujung pada "agresi terbuka." Kementerian Luar Negeri Rusia bahkan menuding AS dan Israel melakukan "agresi tanpa provokasi" serta "praktik pembunuhan politik" terhadap pemimpin negara berdaulat. Presiden Vladimir Putin pun menyampaikan belasungkawa kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menyebut insiden itu "pelanggaran terhadap moralitas manusia dan hukum internasional."
Namun, di balik retorika tajam ini, dukungan konkret Rusia terhadap Iran masih terbatas. Kremlin, yang saat ini sibuk dengan konflik di Ukraina, tampak enggan terseret langsung ke dalam pusaran perang. Peskov menegaskan bahwa Rusia "pada dasarnya hanya mempercayai dirinya sendiri" dan akan selalu membela kepentingan nasionalnya. Meskipun Iran merupakan salah satu sekutu terdekat Moskow, terutama dalam pasokan drone dan upaya menghindari sanksi Barat, perjanjian kemitraan strategis yang ditandatangani pada Januari 2025 antara kedua negara bukanlah pakta pertahanan bersama. Keduanya hanya berjanji berbagi informasi, menggelar latihan gabungan, dan "menjaga keamanan regional," tanpa komitmen saling membela jika diserang.
Ikatan militer dan industri kedua negara memang terus berkembang. Laporan Financial Times pada Februari menyebutkan kesepakatan besar, di mana Rusia akan memasok sistem pertahanan udara portabel Verba senilai USD 500 juta kepada Iran. Iran juga telah menerima pesawat latih Yak-130 dan helikopter serang Mi-28, serta masih menanti jet tempur Su-35. Namun, sistem Verba belum juga dikirim. Ketergantungan Rusia pada drone Shahed buatan Iran juga telah berkurang drastis setelah Moskow memperluas produksi drone domestik tahun lalu. Bagi Moskow, Iran memang terlalu penting untuk dibiarkan runtuh, tetapi tidak cukup penting untuk diperjuangkan secara langsung. Intervensi Rusia kemungkinan besar akan tetap terbatas pada dukungan diplomatik dan kerja sama teknis militer.
Strategi Hati-hati Tiongkok
Beijing juga mengecam keras pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, sejalan dengan penolakan historisnya terhadap strategi perubahan rezim yang sering diterapkan AS di berbagai belahan dunia. Hubungan Tiongkok-Iran berakar kuat pada kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan. Tiongkok adalah mitra dagang terbesar Iran dan pembeli energi terpentingnya. Selama bertahun-tahun Iran digempur sanksi berat dari AS, Tiongkok menjadi penopang utama ekonominya, membeli minyak dalam jumlah besar dengan harga diskon melalui jaringan "ghost fleets" untuk menghindari sanksi. Pada tahun 2025, misalnya, lebih dari 80% minyak Iran dibeli oleh Tiongkok, membantu menstabilkan ekonomi dan membiayai belanja pertahanan Iran.
Perjanjian strategis 25 tahun yang ditandatangani pada 2021 semakin mempererat ikatan, dengan janji investasi ratusan miliar dolar dari Tiongkok untuk infrastruktur dan telekomunikasi Iran. Namun, pendekatan Tiongkok terhadap ketegangan ini adalah "strategi menahan diri yang penuh perhitungan." Beijing secara konsisten menyerukan "pengekangan" dan menyalahkan "campur tangan eksternal," sebuah sindiran jelas terhadap kebijakan AS.
Meskipun Tiongkok memberikan dukungan diplomatik, termasuk penggunaan hak veto atau ancaman veto untuk melemahkan resolusi PBB, intervensi militer langsung tidak pernah ditawarkan. Strategi Beijing selalu bertujuan menjaga AS tetap terjebak di Timur Tengah, tanpa memicu keruntuhan total kawasan yang bisa melambungkan harga minyak dunia. Bagi Tiongkok, munculnya rezim pro-Barat di Teheran akan menjadi kekalahan geopolitik besar. Iran bukan hanya pemasok energi, tetapi juga representasi politik yang menjadi penyeimbang signifikan terhadap pengaruh AS di kawasan. Jika Republik Islam Iran runtuh, kredibilitas mekanisme multilateral yang selama ini coba diperkuat Moskow dan Beijing juga akan runtuh.
Tanpa invasi penuh AS-Israel ke Iran, struktur politik dan militer di negara itu kemungkinan besar masih akan bertahan. Tiongkok diprediksi akan memainkan "strategi jangka panjang," yaitu berusaha menjalin hubungan baik dengan siapa pun yang kelak menggantikan posisi Khamenei sebagai pemimpin Iran. Sementara itu, Rusia akan mencari peluangnya sendiri, dengan perhitungan yang serupa.
Saksikan juga video "Rusia-China Kecam Serangan ke Iran: Langgar Hukum Internasional" di internationalmedia.co.id.

