Dalam laporan Internationalmedia.co.id – News, ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran. Trump menuntut pembukaan Selat Hormuz dalam 48 jam, mengancam akan memadamkan listrik di Teheran jika tuntutan itu tak dipenuhi. Namun, Iran dengan tegas menolak tunduk, justru mengancam akan menyerang infrastruktur vital AS dan Israel di kawasan tersebut.
Ancaman Trump, yang disampaikan melalui platform Truth Social miliknya, sangat eksplisit. Ia menyatakan, "Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz, dalam waktu 48 JAM dari saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, DIMULAI DENGAN YANG TERBESAR TERLEBIH DAHULU!" Ultimatum ini menegaskan keseriusan Washington dalam menekan Teheran terkait jalur pelayaran strategis tersebut.

Alih-alih gentar, militer Iran melalui juru bicara Komando Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan kesiapan mereka untuk membalas. Zolfaghari menyatakan bahwa Iran akan menargetkan semua infrastruktur energi, pabrik desalinasi, dan infrastruktur teknologi informasi yang terkait dengan AS dan Israel di Timur Tengah, jika pembangkit listrik Iran menjadi sasaran. Peringatan ini, seperti dilansir Al Jazeera pada Minggu (22/3), menunjukkan keseriusan Iran dalam menghadapi ancaman tersebut.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran merupakan respons atas apa yang mereka sebut sebagai perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari. Selat strategis ini merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia. Akibat penutupan ini, pasokan dari Teluk terhambat, memicu lonjakan harga bahan bakar global dan ancaman inflasi yang meluas, memaksa banyak negara mencari rute alternatif dan memanfaatkan cadangan.
Sebelumnya, militer AS pada Sabtu (21/3) mengklaim telah merusak bunker Iran yang menyimpan senjata yang mengancam pengiriman minyak dan gas di Selat Hormuz. Tak hanya itu, mendiang kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, pernah memperingatkan bahwa "seluruh kawasan akan mengalami pemadaman listrik dalam waktu setengah jam" jika jaringan listrik Iran diserang, seperti dicatat kantor berita Fars.
Dengan kedua belah pihak saling melontarkan ancaman serius, dunia kini menanti dengan cemas bagaimana ketegangan di Selat Hormuz ini akan berujung dalam 48 jam ke depan. Potensi eskalasi konflik tampaknya semakin nyata, membawa dampak yang tak terbayangkan bagi stabilitas regional dan ekonomi global.

