Selat Hormuz, jalur perairan vital dunia, kini berubah menjadi medan yang penuh ketegangan dan bahaya. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa Iran telah menjadikan selat strategis ini ‘angker’ bagi kapal tanker yang melintas, menyusul serangkaian serangan terkoordinasi dari Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayahnya. Aksi penutupan dan penyerangan terhadap kapal tanker ini telah meningkatkan suhu konflik di Timur Tengah.
Keputusan Iran ini memiliki dampak global yang signifikan. Selat Hormuz dikenal sebagai koridor maritim yang menangani sekitar seperlima dari total perdagangan minyak dunia. Selain itu, volume ekspor gas alam cair (LNG) yang besar dari Qatar dan Uni Emirat Arab juga bergantung pada jalur ini. Diperkirakan sekitar 20 persen dari konsumsi minyak harian global, atau sekitar 20 juta barel, melewati perairan ini setiap harinya, menjadikannya arteri ekonomi yang tak tergantikan.

Ketegangan memuncak setelah AS dan Israel melancarkan gelombang serangan besar-besaran pada Sabtu (28/2) waktu setempat. Serangan tersebut menargetkan Teheran dan wilayah lain di Iran, menewaskan sejumlah tokoh dan pejabat tinggi, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Insiden ini dianggap Iran sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan mereka, memicu respons balasan yang cepat dan keras.
Sebagai balasan, Iran segera melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal. Target utama mereka adalah Israel serta negara-negara Teluk yang diketahui menampung aset militer AS, memperparah eskalasi konflik di seluruh kawasan Timur Tengah.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan "tegas dan terarah" sebagai balasan atas gempuran AS-Israel dan pembunuhan Khamenei. Angkatan Laut IRGC dilaporkan menggunakan 26 drone ofensif dan lima rudal balistik untuk menghantam target militer AS di Selat Hormuz, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Pangkalan AS Arifjan di Kuwait dihantam 12 drone, sementara Pusat Komando dan Kontrol Militer AS di pangkalan Manhad, Uni Emirat Arab, menjadi sasaran enam drone dan lima rudal balistik. Fasilitas Angkatan Laut AS di Bahrain juga diklaim telah dihantam dan dihancurkan oleh enam drone. Otoritas Iran melaporkan sedikitnya 555 orang tewas akibat serangan udara AS-Israel, dan mengklaim setidaknya 560 tentara AS tewas dan luka-luka akibat rentetan serangan balasan mereka.
Salah satu insiden paling mencolok adalah serangan terhadap kapal tanker bahan bakar ‘Athens Nova’. Kapal yang disebut-sebut milik sekutu AS ini diserang di perairan Selat Hormuz, memicu kebakaran hebat. IRGC, dalam pernyataannya pada Senin (2/3), menuduh kapal tanker tersebut berusaha melintasi Selat Hormuz "secara ilegal". Serangan yang terjadi pada Selasa (3/3) ini melibatkan dua drone tempur Iran, dan kapal dilaporkan masih terbakar di perairan selat.
Situasi di Selat Hormuz kini menjadi cerminan nyata dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Dengan jalur pelayaran vital yang terancam dan insiden militer yang terus berlanjut, komunitas internasional memantau dengan cermat perkembangan yang dapat memicu konflik lebih luas.

