Internationalmedia.co.id – News – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Iran, menyatakan waktu hampir habis bagi Teheran untuk menghindari intervensi militer AS. Peringatan ini muncul setelah Iran menolak membuka pintu negosiasi di tengah meningkatnya ketegangan, memicu kekhawatiran serius dari Rusia dan China yang memperingatkan potensi kekacauan global.
Dilansir AFP pada Rabu (28/1/2026), Trump menegaskan bahwa ia tidak pernah mengesampingkan kemungkinan serangan baru terhadap Iran. Ancaman ini menyusul penindakan brutal terhadap gelombang protes di Iran bulan ini, serta dampak perang 12 hari pada Juni lalu antara Iran dan Israel yang didukung AS.

"Semoga Iran segera ‘Datang ke Meja Perundingan’ dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan merata -tanpa senjata nuklir- kesepakatan yang baik untuk semua pihak. Waktu hampir habis, ini benar-benar sangat penting!" kata Trump. Merujuk pada serangan Amerika terhadap target nuklir Iran selama perang Juni yang menurutnya mengakibatkan "kehancuran besar Iran", ia menambahkan, "Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan sampai itu terjadi lagi."
Namun, klaim Trump mengenai permintaan negosiasi dibantah tegas oleh otoritas Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, seperti dilansir Reuters pada Rabu (28/1/2026), menyatakan bahwa dirinya belum melakukan kontak dengan Utusan Khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dalam beberapa hari terakhir, dan tidak ada permintaan negosiasi yang diajukan dari pihaknya.
Rusia dan China Beri Peringatan Keras
Situasi yang kian memanas ini segera menarik perhatian dunia. Juru bicara istana kepresidenan Rusia, Dmitry Peskov, pada Kamis (29/1), mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menolak penggunaan kekerasan. "Potensi negosiasi masih jauh dari berakhir… Tindakan kekerasan apa pun hanya akan menciptakan kekacauan di kawasan ini dan menyebabkan konsekuensi yang sangat berbahaya dalam hal destabilisasi sistem keamanan di seluruh kawasan," kata Peskov, dilansir Al Arabiya dan Reuters.
Senada dengan Rusia, pemerintah China juga memperingatkan dampak intervensi militer AS. Duta Besar China untuk PBB, Fu Cong, berbicara di Dewan Keamanan PBB pada Rabu (28/1), mengatakan bahwa perilaku militer yang "gegabah" akan secara gegabah mendestabilisasi Asia Barat dan mendorong kawasan itu menuju konsekuensi yang tidak dapat diprediksi. "Penggunaan kekerasan tidak dapat menyelesaikan masalah. Setiap tindakan petualangan militer hanya akan mendorong kawasan ini ke jurang ketidakpastian," tegas Fu, dilansir media Iran, Press TV. Ia juga mendesak Washington dan para mitranya untuk berhenti memperburuk krisis.
Ketegangan antara Washington dan Teheran terus meningkat, dengan ancaman militer AS dan penolakan negosiasi dari Iran memicu kekhawatiran serius di panggung global akan potensi konflik yang lebih luas. Untuk pembahasan selengkapnya, saksikan program internationalmedia.co.id Pagi edisi Jumat (30/1/2026) secara langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 08.00-11.00 WIB, di 20.internationalmedia.co.id, YouTube dan TikTok internationalmedia.co.id.

