New York – Sebuah kabar mengejutkan datang dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Seorang diplomat senior, Mohamad Safa, secara mendadak mengumumkan pengunduran dirinya setelah membuat klaim kontroversial bahwa badan dunia tersebut tengah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan penggunaan senjata nuklir di Iran. Informasi ini pertama kali diungkap oleh Internationalmedia.co.id – News, yang mengutip laporan NDTV pada Selasa (31/3/2026).
Safa, yang menjabat sebagai perwakilan utama Patriotic Vision (PVA) di PBB – sebuah organisasi internasional dengan status konsultatif khusus pada Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) – mempublikasikan pengunduran dirinya melalui akun media sosial X. Dalam surat yang menyertai unggahannya, ia menjelaskan alasannya mundur setelah merasa "beberapa pejabat senior PBB melayani lobi yang kuat dan bukan melayani PBB." Ia menegaskan tidak dapat "dengan hati nurani yang baik, menjadi bagian dari atau menyaksikan apa yang terjadi pada saat PBB sedang bersiap untuk kemungkinan penggunaan senjata nuklir."

Dalam postingan terpisah di X yang telah dibaca lebih dari 9 juta kali, Safa membagikan foto Teheran, ibu kota Iran. Ia secara gamblang menyatakan bahwa PBB sedang mempersiapkan skenario penggunaan senjata nuklir di sana. "Saya pikir orang-orang tidak memahami betapa seriusnya situasi ini," tulisnya. Ia juga mengecam keras para "pendukung perang" yang membayangkan pengeboman Teheran, mengingatkan bahwa kota itu bukan gurun berpopulasi rendah, melainkan rumah bagi jutaan keluarga, anak-anak, dan pekerja biasa dengan mimpi. "Anda sakit jiwa karena menginginkan perang," tegasnya, membandingkan potensi pengeboman Teheran dengan serangan nuklir di Washington, Berlin, Paris, atau London.
Safa mengungkapkan bahwa ia rela meninggalkan karier diplomatiknya demi membocorkan informasi ini. Ia menangguhkan tugasnya agar tidak menjadi bagian dari "kejahatan terhadap kemanusiaan" dan berupaya mencegah "musim dingin nuklir sebelum terlambat." Ia menyerukan agar ancaman penggunaan senjata nuklir ditanggapi dengan sangat serius, meminta masyarakat untuk menyebarkan pesan ini ke seluruh dunia, turun ke jalan, dan berunjuk rasa demi kemanusiaan dan masa depan. "Hanya rakyat yang dapat menghentikannya. Sejarah akan mengingat kita," pungkasnya.
Lebih lanjut, Safa mengaku sudah ingin mundur sejak tahun 2023, namun berusaha bersabar selama tiga tahun terakhir. Ia menyoroti rentetan konflik global dan menyebut beberapa pejabat PBB enggan menuduh Amerika Serikat dan Israel melanggar hukum internasional. Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya menghadapi kritik, bahkan menerima ancaman pembunuhan, setelah menyuarakan kekhawatirannya dan menawarkan perspektif berbeda pasca serangan Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023 yang memicu perang di Jalur Gaza.

