Internationalmedia.co.id melaporkan, deklarasi PBB tentang bencana kelaparan di Gaza telah memicu reaksi beragam. Warga Palestina yang kelaparan berebut makanan di dapur umum, menggambarkan keputusasaan yang mendalam di tengah konflik berkepanjangan. Rekaman video menunjukkan pemandangan pilu: perempuan dan anak-anak kecil berdesakan, memperebutkan beras seadanya. Seorang anak terlihat mengambil butir-butir beras yang tersisa di dasar panci.
Yousef Hamad, pengungsi dari Beit Hanoun, menggambarkan situasi yang memprihatinkan. "Kami tak punya rumah, makanan, atau penghasilan," ujarnya, "Kami terpaksa mengandalkan dapur amal, tapi itu tak cukup." Umm Mohammad, seorang ibu di Deir el-Balah, lebih lantang mengecam, menyebut deklarasi PBB sebagai tindakan yang "terlambat". Ia menggambarkan anak-anaknya yang "terhuyung-huyung karena pusing dan tak berdaya akibat kekurangan makanan dan air."

PBB sendiri menuding "penghambatan sistematis" bantuan oleh Israel sebagai penyebab bencana ini, yang menurut Inisiatif Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) telah melanda 500.000 jiwa di Kegubernuran Gaza, sekitar seperlima wilayah Palestina. Angka ini mencakup Kota Gaza.
Namun, Israel membantah keras pernyataan PBB tersebut. Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan tak ada kelaparan di Gaza dan menyebut temuan PBB sebagai "kebohongan Hamas". Pernyataan ini disampaikan sebagai tanggapan atas laporan IPC yang menyatakan dengan bukti memadai bahwa kelaparan telah terjadi di wilayah administrasi Gaza. Pernyataan yang saling bertolak belakang ini semakin mempersulit upaya penyelesaian krisis kemanusiaan di Gaza. Perbedaan narasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang akses informasi dan transparansi dalam penanganan krisis kemanusiaan di wilayah konflik tersebut.
