Seruan dari negara-negara Arab dan Muslim untuk meninjau ulang hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Israel pasca serangan mematikan di Doha, Qatar, telah mengemuka. Internationalmedia.co.id melaporkan, dampaknya bagi Israel bisa sangat signifikan, menurut pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran (Unpad), Teuku Rezasyah.
Rezasyah memprediksi isolasi internasional akan menjadi pukulan telak bagi Israel. "Israel akan terisolir di wilayahnya sendiri, dan pengucilan ini berpotensi meluas ke seluruh dunia," tegasnya. Citranya sebagai negara yang mengancam perdamaian dunia pun akan semakin kuat, membuat negara lain enggan menjalin kerja sama.

Lebih dari itu, sektor pariwisata Israel terancam kolaps. "Industri pariwisata akan runtuh, dan warga Israel akan merasa tidak aman di luar negeri," ungkap Rezasyah. Dampak ekonomi lainnya tak kalah berat. Pemutusan hubungan diplomatik akan membuat perdagangan berjalan melalui pihak ketiga, meningkatkan harga barang dan memicu demonstrasi. Perjanjian bilateral pun berpotensi dibatalkan sepihak oleh para mitra Israel.
Untuk mengembalikan nama baiknya yang tercoreng, terutama terkait pelanggaran HAM, Israel membutuhkan upaya besar. Rezasyah menambahkan, tekanan internasional akan semakin meningkat, termasuk kritik terhadap negara-negara yang memberikan dwi-kewarganegaraan kepada warga Israel.
Seruan untuk meninjau hubungan ini muncul dari pertemuan darurat Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Doha, yang dihadiri hampir 60 negara. Pertemuan tersebut merespon serangan Israel di Doha yang diklaim menargetkan pemimpin senior Hamas. Pernyataan bersama yang dihasilkan mendesak peninjauan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Israel, serta proses hukum internasional terhadap negara tersebut. Akankah Israel mampu menghadapi badai ini?

