Serangan mendadak Israel di jantung Beirut pada dini hari telah menewaskan sedikitnya enam orang, demikian disampaikan otoritas Lebanon. Insiden tragis ini terjadi tanpa peringatan, bahkan setelah militer Israel sebelumnya mengeluarkan ancaman akan menargetkan distrik ketiga di ibu kota Lebanon tersebut, seperti dilaporkan oleh Internationalmedia.co.id – News.
Keterlibatan Lebanon dalam konflik regional yang memanas dimulai sejak 2 Maret, ketika kelompok perlawanan Hizbullah, yang didukung Iran, melancarkan serangan roket ke wilayah Israel. Aksi ini disebut sebagai balasan atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang merenggut nyawa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sejak saat itu, Israel telah merespons dengan melancarkan serangan intensif di berbagai wilayah Lebanon, termasuk operasi darat di selatan, dan telah menargetkan pusat Beirut berkali-kali, baik dengan maupun tanpa peringatan.

Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan bahwa serangan pada Rabu (18/3) dini hari tersebut menghantam sebuah kompleks apartemen di lingkungan Zuqaq al-Blat, pusat kota Beirut. Area ini dikenal sebagai daerah padat penduduk yang strategis, berdekatan dengan markas pemerintahan dan sejumlah kedutaan besar. NNA menambahkan, lokasi serangan ini juga tidak jauh dari titik di mana militer Israel pekan lalu menargetkan kantor cabang Beirut dari perusahaan keuangan Al-Qard Al-Hassan, yang diketahui memiliki kaitan dengan Hizbullah.
Selain itu, NNA juga melaporkan bahwa dua serangan terpisah lainnya menargetkan dua unit apartemen di distrik Basta, distrik padat penduduk lain yang juga pernah menjadi sasaran Israel selama konflik tahun 2024 antara Israel dan Hizbullah. Seorang koresponden AFP di lokasi kejadian di Basta menyaksikan tim pertolongan pertama bekerja di tengah reruntuhan, dengan dinding apartemen di dua lantai yang berdekatan terlihat hancur lebur akibat dahsyatnya ledakan. Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi jumlah korban sementara dari kedua insiden ini mencapai enam orang tewas dan 24 lainnya luka-luka. Proses identifikasi jenazah di lokasi kejadian membutuhkan pengujian DNA, mengingat kondisi yang ada.

