Sebuah tragedi mengerikan mengguncang Ankara, Turki, ketika seorang narapidana yang baru saja mendapatkan izin pembebasan sementara diduga melakukan pembunuhan keji terhadap tiga anggota keluarganya sendiri. Korban-korban tersebut diidentifikasi sebagai ibu, istri, dan putrinya. Insiden memilukan ini, yang terjadi pada awal Februari 2026, segera memicu gelombang kemarahan dan kecaman dari berbagai kelompok aktivis perempuan di Turki. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, pelaku kemudian mengakhiri hidupnya sendiri setelah melakukan aksi brutal tersebut.
Menurut laporan dari kantor berita Turki, DHA, pelaku yang tidak disebutkan namanya ini sedang menjalani hukuman penjara di wilayah barat laut Turki atas kasus penipuan dan ancaman bersenjata. Ia diberikan izin keluar penjara selama 11 hari, yang dimulai pada awal Februari. Namun, kebebasan sementara itu justru berujung pada pembantaian tragis yang merenggut nyawa orang-orang terdekatnya, memicu pertanyaan serius tentang sistem pengawasan narapidana.

Komite Solidaritas Perempuan, salah satu kelompok feminis terkemuka di Turki, segera menyuarakan kemarahannya melalui platform X. Mereka menyoroti pola yang mengkhawatirkan: "Tahun lalu, enam wanita dibunuh oleh narapidana yang melarikan diri dari penjara atau dibebaskan sementara. Menteri Kehakiman dan Menteri Dalam Negeri tidak mengatakan apa pun dan tidak ada yang bertanggung jawab! Dan hari ini, narapidana lain kembali menebar teror," tulis komite tersebut, menuntut pertanggungjawaban dari pihak berwenang.
Kelompok advokasi lain, We Will Stop Femicide, juga tidak tinggal diam. Mereka mengecam keras pembunuhan tersebut dan menyerukan aksi protes massal di Ankara sebagai bentuk perlawanan terhadap kekerasan berbasis gender yang terus merajalela. Data yang dirilis oleh kelompok ini menunjukkan gambaran suram: pada tahun 2025 saja, tercatat 294 wanita dibunuh oleh pria, dan 297 wanita ditemukan tewas dalam keadaan mencurigakan. Lebih lanjut, 35 persen dari korban tewas dibunuh oleh suami mereka, dan 57 persen kasus pembunuhan melibatkan penggunaan senjata api, menggarisbawahi urgensi penanganan masalah ini.
Tragedi ini sekali lagi menyoroti celah dalam sistem peradilan dan keamanan di Turki, terutama terkait pengawasan terhadap narapidana yang dibebaskan sementara. Para aktivis mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret guna mencegah terulangnya insiden serupa dan melindungi para wanita dari ancaman kekerasan.

