Internationalmedia.co.id melaporkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya mengirimkan bantuan medis ke Gaza setelah lebih dari dua bulan terblokade. Kiriman pertama sejak 2 Maret ini, menurut Sekretaris Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, hanya berupa sembilan truk berisi pasokan medis, plasma, dan darah. Jumlah ini, menurut Tedros, hanyalah "setetes air di lautan" kebutuhan medis di wilayah tersebut.
Pengiriman yang dilakukan Rabu waktu setempat melalui penyeberangan Kerem Shalom dengan Israel, berjalan tanpa insiden. Namun, perjalanan bantuan tersebut tetap berisiko tinggi. Pasokan yang tiba akan segera didistribusikan ke rumah sakit-rumah sakit prioritas di Gaza yang kekurangan kritis. Khususnya, darah dan plasma akan dikirim ke Kompleks Medis Nasser untuk kemudian didistribusikan lebih lanjut.

Situasi di Gaza memang memprihatinkan. WHO sebelumnya menyatakan bahwa hanya 17 dari 36 rumah sakit di Gaza yang masih berfungsi minimal. Sementara itu, empat truk bantuan WHO masih tertahan di Kerem Shalom, dengan lebih banyak lagi dalam perjalanan. Tedros menekankan perlunya bantuan dalam skala besar untuk menyelamatkan nyawa warga Gaza. Ia pun mendesak pengiriman bantuan kesehatan secara segera, tanpa hambatan, dan berkelanjutan melalui semua rute yang memungkinkan.
Ironisnya, meskipun Israel mulai mengizinkan masuknya beberapa pasokan pada akhir Mei, distribusi bantuan terhambat oleh insiden penembakan terhadap warga yang mengantre makanan. Hal ini semakin memperumit situasi kemanusiaan yang sudah kritis di Gaza. Program distribusi makanan baru yang didukung AS dan Israel, Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), juga menuai kontroversi karena ditolak oleh PBB dan kelompok bantuan lainnya karena diduga memiliki tujuan militer. Kondisi ini membuat nasib warga Gaza semakin mengkhawatirkan.
