Internationalmedia.co.id – News – Canberra. Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengumumkan bahwa negaranya telah mengerahkan "aset militer" ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini diambil sebagai bagian dari perencanaan darurat menyusul peningkatan drastis ketegangan di wilayah tersebut. Pengerahan ini terjadi di tengah gejolak regional pasca-serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang memicu eskalasi konflik.
Menurut informasi dari sejumlah pejabat Australia yang dikutip AFP, pengerahan aset militer ini memiliki tujuan utama untuk mengevakuasi warga negara Australia yang berada di kawasan tersebut. Diperkirakan ada sekitar 115.000 warga Australia yang saat ini berada di Timur Tengah, menghadapi situasi yang semakin tidak menentu dan berpotensi membahayakan.

Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, yang menewaskan ratusan orang, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Insiden ini memicu respons balasan dari Teheran yang menyerang target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi markas pasukan AS, memperparah konflik regional menjadi perang terbuka.
Dalam pidatonya di parlemen pada Kamis (5/3), Albanese menegaskan komitmen pemerintahannya untuk melindungi warga. "Kita telah mengerahkan aset-aset militer sebagai bagian dari perencanaan darurat kita awal pekan ini," ujarnya. Selain itu, Australia juga telah mengirimkan enam tim respons krisis ke wilayah tersebut untuk membantu koordinasi upaya evakuasi. Meskipun PM Albanese tidak merinci jenis aset militer yang dikerahkan, pejabat Canberra yang tidak ingin disebutkan namanya mengonfirmasi kepada AFP bahwa sebuah pesawat angkut berat dan pesawat pengisi bahan bakar telah dikirim ke Timur Tengah.
Pemerintah Australia menyarankan warganya untuk pulang menggunakan penerbangan komersial jika memungkinkan, mengingat situasi yang cepat berubah. Sebagai langkah awal, penerbangan evakuasi pertama dari Dubai, Uni Emirat Arab, telah berhasil mendarat di Sydney pada Rabu (4/3), membawa pulang sejumlah warga Australia. Albanese juga menyampaikan apresiasinya, "Saya berterima kasih kepada warga Australia yang pergi ke situasi berbahaya untuk membantu sesama warga Australia."
Situasi yang mendesak ini juga mendorong negara lain untuk bertindak. Selandia Baru, misalnya, juga telah mengirimkan dua pesawat militer ke Timur Tengah pada Kamis (5/3) sebagai persiapan untuk mengevakuasi warganya, menunjukkan skala krisis yang meluas dan kebutuhan akan respons cepat di kawasan tersebut.

