Dalam sebuah perkembangan yang membingungkan, Komando Pusat militer Amerika Serikat (AS) mengumumkan operasi serangan terhadap infrastruktur militer rezim Iran, hanya berselang singkat setelah Washington dikabarkan menawarkan rencana gencatan senjata komprehensif. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa serangan ini diklaim sebagai respons terhadap ancaman terhadap pasukan AS dan sekutunya di kawasan.
Dilansir Aljazeera pada Rabu (25/3/2026), informasi mengenai serangan ini dibagikan melalui akun X resmi militer AS. Sebuah video berdurasi 19 detik turut diunggah, menampilkan rekaman cuplikan serangan yang melanda pusat infrastruktur Iran, memicu ledakan dahsyat dan kobaran api yang membubung tinggi.

Secara terpisah namun dalam konteks ketegangan yang sama, militer Israel juga mengonfirmasi bahwa angkatan udaranya telah melancarkan serangan terhadap beberapa situs produksi senjata Iran di Teheran pada malam hari. Pernyataan yang dipublikasikan melalui Telegram mengklaim bahwa fasilitas yang menjadi target digunakan Iran untuk memproduksi beragam senjata udara dan laut, termasuk yang ditujukan untuk kelompok-kelompok proksi seperti Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, serta kelompok lainnya di Timur Tengah. Serangan juga menyasar posisi peluncuran rudal antipesawat dan sistem pertahanan udara rezim tersebut.
Di tengah eskalasi militer ini, muncul informasi mengejutkan mengenai tawaran gencatan senjata 15 poin dari AS kepada Iran. Informasi ini pertama kali diungkap oleh media terkemuka AS, New York Times (NYT), yang mengutip dua pejabat Washington yang mengetahui garis besar proposal tersebut. Disebutkan bahwa tawaran itu telah disampaikan kepada para pejabat Iran melalui Pakistan, yang menawarkan diri sebagai mediator untuk negosiasi ulang antara Washington dan Teheran.
Meskipun rincian lengkap dari 15 poin rencana gencatan senjata itu belum diungkapkan secara detail kepada publik, laporan televisi Israel, Channel 12, yang mengutip tiga sumber, menyebutkan bahwa AS mengupayakan gencatan senjata selama sebulan penuh untuk membahas proposal tersebut. Laporan media Israel juga mengindikasikan bahwa rencana gencatan senjata dari AS mencakup tuntutan pembongkaran program nuklir Iran, penghentian dukungan untuk kelompok-kelompok proksi, serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Situasi ini menciptakan paradoks yang kompleks, di mana upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan melalui tawaran gencatan senjata justru diiringi oleh aksi militer yang agresif dari AS dan sekutunya. Perkembangan ini menggarisbawahi volatilitas dan ketidakpastian dinamika geopolitik di Timur Tengah.

