Washington DC – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana untuk memulai negosiasi dengan Rusia. Pembahasan ini bertujuan menyusun perjanjian nuklir baru yang akan menggantikan Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START) yang telah resmi berakhir pada 5 Februari lalu. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa langkah ini menandai babak baru dalam upaya pengendalian senjata antara dua kekuatan nuklir terbesar dunia.
Perjanjian New START, yang merupakan singkatan dari Strategic Arms Reduction Treaty, adalah pakta penting yang membatasi jumlah rudal balistik antarbenua (ICBM), rudal lain, dan hulu ledak nuklir yang boleh dikerahkan oleh kedua negara. Ditandatangani pada tahun 2010 oleh Presiden AS saat itu Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, perjanjian ini awalnya berlaku selama satu dekade. Setelah berakhir pada Februari 2021, pakta tersebut sempat diperpanjang lima tahun oleh mantan Presiden AS Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Sebelumnya, Rusia sempat menawarkan perpanjangan satu tahun pada September tahun lalu, sebuah tawaran yang oleh Trump disebut "ide bagus." Namun, Kremlin tidak pernah menerima tanggapan resmi dari Washington. Akibatnya, tanpa kesepakatan perpanjangan, perjanjian nuklir krusial ini secara resmi berakhir pada Kamis (5/2) waktu setempat.
Melalui platform Truth Social, beberapa jam setelah New START kedaluwarsa, Presiden Trump menyatakan bahwa perjanjian tersebut adalah "kesepakatan yang dinegosiasikan dengan buruk oleh Amerika Serikat yang, selain segala hal lainnya, telah dilanggar secara terang-terangan." Ia menegaskan, "Daripada memperpanjang ‘NEW START’, kita seharusnya meminta para ahli nuklir kita untuk mengerjakan perjanjian baru yang lebih baik dan dimodernisasi yang dapat berlaku dalam jangka waktu yang lama di masa depan."
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengkonfirmasi posisi AS. "Presiden (Trump) menginginkan para ahli nuklir kita mengerjakan perjanjian baru yang lebih baik dan dimodernisasi yang dapat bertahan lama di masa depan," ujarnya seperti dikutip TASS, Jumat (6/2/2026). Ia menambahkan, "Dan itulah yang akan terus didiskusikan oleh Amerika Serikat dengan Rusia."
Sejauh ini, belum ada respons langsung dari Rusia mengenai pernyataan terbaru Trump. Namun, sebelumnya, otoritas Rusia telah menegaskan bahwa mereka "tidak lagi terikat" dengan perjanjian nuklir tersebut setelah tanggal 5 Februari. Meski demikian, penasihat Kremlin, Yury Ushakov, menyampaikan bahwa Presiden Putin menekankan Rusia "akan bertindak secara terukur dan bertanggung jawab" pasca berakhirnya perjanjian nuklir ini.
Berakhirnya New START dan keinginan AS untuk memulai negosiasi baru menggarisbawahi kompleksitas hubungan bilateral antara Washington dan Moskow, terutama dalam isu stabilitas strategis global. Upaya penyusunan perjanjian baru ini akan menjadi sorotan dunia, mengingat dampaknya terhadap keamanan internasional dan potensi perlombaan senjata nuklir.

