Internationalmedia.co.id – News Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim melancarkan serangan rudal terhadap sebuah kapal tanker milik Amerika Serikat di perairan Teluk Persia. Insiden yang dilaporkan terjadi pada Kamis (5/3/2026) ini disebut menyebabkan kapal tanker tersebut terbakar hebat, demikian disampaikan oleh televisi pemerintah Teheran yang mengutip pernyataan IRGC. Klaim ini, bagaimanapun, belum mendapatkan konfirmasi independen dari pihak lain.
Dalam pernyataan resminya yang dilansir AFP, IRGC menyatakan bahwa kapal tanker AS tersebut "terkena rudal di sebelah utara Teluk Persia" dan "saat ini terbakar". Pernyataan ini menambah daftar panjang insiden maritim di kawasan strategis tersebut, meskipun kebenaran dan detail serangan ini masih menunggu verifikasi dari sumber independen.

Serangan terbaru ini terjadi di tengah klaim IRGC yang menyatakan telah memiliki "kendali penuh" atas perairan Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia ini merupakan arteri utama bagi transportasi minyak dan gas global. Klaim kendali penuh ini berpotensi meningkatkan kekhawatiran internasional terkait keamanan maritim.
IRGC juga mengeluarkan peringatan keras, menyatakan bahwa setiap kapal yang berupaya melintasi jalur perairan strategis tersebut berisiko mengalami kerusakan akibat rudal atau drone "nyasar". Selat Hormuz sendiri telah ditutup sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan gelombang serangan terkoordinasi terhadap Iran pada Sabtu (28/2) waktu setempat, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan rudal dan drone ke target-target di Israel serta pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk.
Sebelum insiden di Teluk Persia, IRGC juga mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sebuah kapal militer AS di Samudra Hindia, yang berjarak ratusan kilometer dari perbatasan Iran. Menurut klaim IRGC, sebuah kapal perusak AS yang sedang mengisi bahan bakar dari kapal tanker Amerika di Samudra Hindia dihantam oleh rudal Ghadr-380 dan rudal Talaeieh. Serangan ini disebut sebagai "serangan dahsyat" mengingat jarak target yang lebih dari 600 kilometer dari pantai selatan Iran. Intelijen IRGC menyimpulkan bahwa serangan tersebut memicu "kebakaran meluas" pada kedua kapal militer itu, dengan kepulan asap membumbung tinggi di atas lautan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim-klaim serangan yang dilancarkan oleh Iran ini. Keheningan dari Washington semakin menambah ketidakpastian di tengah eskalasi konflik yang terus memanas di kawasan tersebut.

