Internationalmedia.co.id melaporkan, jumlah korban tewas akibat bentrokan berdarah di Provinsi Sweida, Suriah selatan, terus meningkat. Angka terbaru yang dirilis menunjukkan lebih dari 1120 orang telah meninggal dunia sejak pekan lalu. Meskipun gencatan senjata telah diberlakukan, bayangan konflik sektarian masih menghantui wilayah yang didominasi komunitas Druze tersebut.
Bentrokan yang dimulai pada Minggu (13/7) melibatkan petempur Druze dan suku Bedouin. Situasi semakin rumit dengan keterlibatan pasukan keamanan pemerintah Suriah yang seharusnya meredakan konflik, namun justru ikut terseret dalam pertempuran. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (Syrian Observatory for Human Rights), mengungkap data mengerikan. Dari total korban, 427 merupakan petempur Druze, 298 warga sipil Druze, dan 354 personel pasukan keamanan Suriah. Yang lebih mengejutkan, 194 orang dilaporkan dieksekusi oleh personel Kementerian Pertahanan dan Kementerian Dalam Negeri Suriah, sementara 21 anggota suku Bedouin juga menjadi korban eksekusi oleh petempur Druze. Selain itu, 15 tentara Suriah tewas dalam serangan udara Israel.

Serangan udara Israel yang menargetkan pasukan pemerintah Suriah di Sweida dan Damaskus semakin memperumit situasi. Tel Aviv secara terang-terangan memperingatkan akan meningkatkan intensitas serangan jika pasukan pemerintah Suriah tidak mundur dari Sweida. Meskipun laporan warga setempat menyebutkan situasi relatif tenang pada Minggu (20/7) berkat gencatan senjata yang diumumkan pemerintah Suriah setelah mundurnya petempur Bedouin, pertempuran sempat kembali terjadi pada Sabtu (19/7). Menteri Dalam Negeri Suriah, Anas Khattab, mengklaim pasukan keamanan berhasil meredakan situasi dan menegakkan gencatan senjata. Namun, bayang-bayang tragedi kemanusiaan di Sweida masih membekas, mengingatkan dunia akan betapa rapuhnya perdamaian di tengah konflik berkepanjangan di Suriah.
