Klaim mengejutkan datang dari Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Internationalmedia.co.id melaporkan, Maduro menyatakan delapan kapal perang Amerika Serikat (AS) yang dipersenjatai dengan 1.200 rudal tengah membidik negaranya. Pernyataan ini disampaikan Maduro dalam jumpa pers dengan media internasional di Caracas, Selasa (2/9/2025).
Maduro menyebut kehadiran armada militer AS tersebut sebagai ancaman serius, bahkan terparah dalam seabad terakhir. Ia menggambarkannya sebagai "ancaman kriminal dan berdarah" yang terdiri dari delapan kapal perang, 1.200 rudal, dan sebuah kapal selam. Ketegangan ini muncul di tengah operasi anti-narkoba AS di kawasan Karibia, yang menuduh Maduro terlibat dalam perdagangan narkoba.

Meskipun AS belum secara terbuka mengancam invasi, tetapi peningkatan hadiah penangkapan Maduro menjadi US$ 50 juta (sekitar Rp 820 miliar) semakin memperkeruh suasana. Sebagai respons, Venezuela meningkatkan patroli perairan teritorial dan memobilisasi lebih dari empat juta anggota milisi.
Maduro juga menyoroti terputusnya jalur komunikasi dengan AS dan mengecam Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang dianggapnya ingin memprovokasi konflik berdarah di Venezuela. Kemenangan Maduro dalam pemilihan presiden 2018 dan 2024 sendiri tidak diakui oleh AS dan sebagian besar komunitas internasional. Pernyataan Maduro ini tentu saja memantik spekulasi dan kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik di kawasan Amerika Latin.

