Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, secara mengejutkan menantang Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, untuk berdialog. Hal ini disampaikan Internationalmedia.co.id merujuk pada laporan AFP, menyusul meningkatnya ketegangan antara kedua negara. Maduro membantah keras tuduhan AS yang menyebutnya sebagai pengedar narkoba, sebuah pernyataan yang disampaikan dalam surat kepada Trump tertanggal 6 September lalu, namun baru dipublikasikan Minggu (21/9).
Surat tersebut muncul setelah AS mengerahkan armada kapal perang ke perairan Venezuela dan melancarkan serangan terhadap beberapa kapal yang diduga mengangkut narkoba. Serangan yang menewaskan sedikitnya 11 orang ini, menurut Maduro, merupakan bagian dari eskalasi politik yang berbahaya. Ia menegaskan tuduhan AS sebagai "berita palsu terburuk" dan mendesak Trump untuk memilih jalur perdamaian lewat dialog.

Ironisnya, bahkan setelah Maduro mengirimkan surat perdamaian, AS melancarkan dua serangan lagi terhadap kapal yang diduga terkait penyelundupan narkoba. Satu di lepas pantai Venezuela, dan satu lagi di perairan utara Republik Dominika. Ketegangan semakin meningkat dengan kehadiran setidaknya delapan kapal perang AS, termasuk kapal selam bertenaga nuklir, dan 10 jet tempur di kawasan Karibia. Pengerahan militer AS ini menuai kecaman dari negara-negara Amerika Latin yang khawatir akan serangan terhadap Caracas. Langkah Maduro ini menjadi sorotan dunia, di tengah situasi yang semakin memanas.

