Internationalmedia.co.id – News melaporkan perkembangan mengejutkan dari Brasilia. Eduardo Bolsonaro, putra dari mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro, resmi dicopot dari keanggotaannya di majelis rendah parlemen negara tersebut. Keputusan ini diambil setelah ia diketahui absen secara terus-menerus selama berbulan-bulan, tanpa kehadiran dalam sidang-sidang penting.
Sejak Februari lalu, Eduardo Bolsonaro dilaporkan tidak pernah lagi menginjakkan kaki di gedung parlemen di Brasilia, ibu kota Brasil. Sumber internal menyebutkan bahwa selama periode tersebut, putra ketiga Bolsonaro ini berada di Amerika Serikat, aktif melakukan lobi di Washington. Tujuannya tidak lain adalah untuk mencari dukungan bagi ayahnya, Jair Bolsonaro, yang kini tengah menghadapi masa penahanan.

Berdasarkan dokumen resmi yang diakses internationalmedia.co.id, jumlah ketidakhadiran Eduardo telah melampaui batas toleransi yang ditetapkan oleh otoritas Dewan Perwakilan Rakyat Brasil. Meskipun upaya lobi yang dilakukannya bersama keluarga Bolsonaro sempat menunjukkan hasil awal, pada akhirnya hal tersebut tidak cukup untuk menyelamatkan kursinya di parlemen. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Eduardo maupun keluarga Bolsonaro terkait keputusan parlemen ini.
Sementara itu, nasib sang ayah, Jair Bolsonaro, juga masih menjadi sorotan. Ia diketahui telah dipenjara sejak November lalu, menjalani hukuman 27 tahun atas dakwaan merencanakan kudeta terhadap pemerintahan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva.
Sebuah perkembangan menarik muncul ketika parlemen Brasil pada Rabu (17/12) menyetujui undang-undang baru yang berpotensi mengurangi masa hukuman Bolsonaro. Namun, harapan akan pengurangan hukuman itu tampaknya akan pupus, setelah Presiden Lula da Silva, dalam pernyataannya pada Kamis (18/12), secara tegas berjanji akan memveto undang-undang tersebut agar tidak diberlakukan secara resmi.
Kasus yang menimpa Bolsonaro ini juga menarik perhatian khusus dari mantan Presiden AS Donald Trump. Trump berulang kali menyebut persidangan sekutunya itu sebagai "perburuan penyihir", sebuah retorika yang sering ia gunakan ketika menghadapi tuduhan kolusi dalam pilpres AS 2016.
Selain retorika, pemerintahan Trump sebelumnya sempat memberlakukan tarif 40 persen untuk ekspor Brasil ke AS pada Agustus lalu, yang sempat membuat harga kopi sebagai produk utama Brasil melonjak. Tarif besar ini sebagian besar dicabut pada November, menyusul pertemuan tatap muka Trump dengan Lula da Silva pada Oktober. Tak hanya itu, Trump juga pernah memberikan sanksi kepada Hakim Mahkamah Agung Brasil, Alexandre de Moraes, yang memimpin persidangan Bolsonaro dan menjatuhkan hukuman 27 tahun penjara kepadanya. Namun, sanksi tersebut telah dicabut sejak awal bulan ini.
