Internationalmedia.co.id – News – Seorang warga Sydney, Australia, Ahmed al Ahmed (43), yang menunjukkan keberanian luar biasa dengan merebut senjata api dari salah satu pelaku penembakan massal di Pantai Bondi, kini dalam masa pemulihan intensif di rumah sakit. Ia baru saja menjalani operasi setelah terluka tembak dalam insiden heroiknya.
Peristiwa mencekam itu terjadi ketika Ahmed, bersembunyi di balik sebuah mobil yang terparkir, tiba-tiba menyerang pelaku dari belakang. Dengan sigap, ia berhasil merebut senapan pelaku dan menjatuhkannya ke tanah. Dalam aksi tunggalnya tersebut, Ahmed terkena dua tembakan di bagian atas bahu kirinya. Penembakan massal di Pantai Bondi pada Minggu (14/12) sore waktu setempat telah menewaskan 15 orang, menjadikannya insiden penembakan terburuk di Australia dalam hampir tiga dekade terakhir. Polisi Australia mengidentifikasi pelaku sebagai seorang ayah berusia 50 tahun dan putranya yang berusia 24 tahun.

Kondisi Ahmed pascaoperasi disampaikan oleh sepupunya, Jozay Alkanji. Saat ditemui internationalmedia.co.id di luar rumah sakit Sydney pada Senin malam, Jozay menyatakan, "Dia sudah menjalani operasi pertama. Saya kira dia akan menjalani dua atau tiga operasi lagi, tergantung keputusan dokter."
Aksi heroik Ahmed sontak menuai pujian dari berbagai tokoh dunia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebutnya sebagai "orang yang sangat, sangat berani yang menyelamatkan banyak nyawa." Chris Minns, Perdana Menteri negara bagian New South Wales, tempat Sydney berada, juga memujinya sebagai "pahlawan sejati."
Bahkan, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, turut menyampaikan apresiasi, menjuluki Ahmed sebagai "pria Muslim pemberani." Dalam pernyataannya yang dikutip ABC News, Netanyahu mengatakan, "Kita melihat tindakan seorang pria pemberani — ternyata seorang pria Muslim pemberani, dan saya salut kepadanya — yang menghentikan salah satu teroris ini dari membunuh orang-orang Yahudi yang tidak bersalah." Namun, di balik pujian tersebut, Netanyahu juga melontarkan kritik tajam kepada PM Australia Anthony Albanese. Ia menuduh Albanese "tidak melakukan apa pun untuk menghentikan penyebaran antisemitisme di Australia" dan bahkan "mengobarkan api antisemitisme" dengan mengakui negara Palestina.
