Internationalmedia.co.id – News – Pemerintah Iran menyatakan kecaman kerasnya atas insiden penembakan massal yang mengguncang Pantai Bondi, Sydney, Australia, pada Minggu (14/12). Serangan brutal yang secara spesifik menargetkan acara perayaan komunitas Yahudi ini, oleh Teheran, dilabeli sebagai "serangan kekerasan" yang menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai puluhan lainnya.
Insiden tragis yang mengguncang salah satu destinasi wisata ikonik Sydney ini berlangsung di tengah perhelatan tahunan "Hanukkah by the Sea", sebuah acara yang dilaporkan dihadiri oleh lebih dari seribu orang. Kepolisian Australia dengan cepat mengidentifikasi dua individu sebagai pelaku: seorang ayah bernama Sajid Akram (50) dan putranya, Naveed Akram (24).

Dalam respons cepat di lokasi kejadian, Sajid Akram tewas ditembak oleh aparat kepolisian. Sementara itu, Naveed Akram mengalami luka kritis dan kini berada di bawah penjagaan ketat kepolisian di sebuah rumah sakit setempat. Penyelidikan awal mengungkapkan bahwa Sajid Akram memiliki enam pucuk senjata api secara sah. Meskipun motif pasti di balik penembakan ini masih dalam tahap penyelidikan mendalam, kepolisian Australia telah secara resmi mengklasifikasikan insiden ini sebagai "aksi terorisme". Otoritas juga mengungkapkan temuan dugaan alat peledak rakitan (IED) di dalam sebuah kendaraan yang terkait dengan pelaku, ditemukan terparkir di dekat area pantai.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, melalui pernyataan yang diunggah di platform media sosial X, seperti dikutip oleh AFP pada Senin (15/12), menegaskan posisi negaranya. "Kami mengutuk serangan kekerasan di Sydney, Australia," ucap Baghaei. Ia menambahkan dengan tegas, "Teror dan pembunuhan manusia, di mana pun itu dilakukan, ditolak dan dikutuk."
Pernyataan kecaman dari Iran ini muncul di tengah periode memburuknya secara signifikan hubungan bilateral antara Teheran dan Canberra sepanjang tahun ini. Sebelumnya, pada Agustus, pemerintah Australia secara terbuka menyalahkan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) atas dua serangan pembakaran yang terjadi pada tahun 2024. Serangan tersebut menargetkan sebuah restoran kosher di Sydney dan sebuah sinagoge di Melbourne, meskipun tidak menimbulkan korban jiwa.
Menyusul insiden tersebut, pemerintah Australia mengambil langkah diplomatik drastis dengan menyatakan Duta Besar Iran sebagai persona non grata, memberikan waktu seminggu bagi sang Duta Besar beserta tiga diplomat Teheran lainnya untuk meninggalkan negara itu. Canberra juga menarik pulang Duta Besarnya dari Teheran dan menangguhkan aktivitas kedutaannya di ibu kota Iran. Iran pada saat itu mengecam tindakan Australia dan bersumpah akan melakukan "tindakan balasan".
Ketegangan mencapai puncaknya pada November, ketika pemerintah Australia secara resmi menetapkan IRGC sebagai entitas sponsor teror. Langkah ini dikecam keras oleh Kementerian Luar Negeri Iran sebagai "tindakan yang menghina dan tidak dapat dibenarkan," serta dianggap sebagai "pelanggaran terhadap aturan dan norma hukum internasional yang berkaitan dengan kedaulatan nasional negara."
Tragedi di Bondi ini, dengan latar belakang ketegangan diplomatik yang sudah ada, berpotensi semakin memperkeruh dinamika hubungan antara Teheran dan Canberra, menambah lapisan kompleksitas pada investigasi yang sedang berlangsung.
