Internationalmedia.co.id – Presiden Lebanon, Joseph Aoun, secara tegas menyatakan bahwa negaranya tidak menginginkan konflik bersenjata dengan Israel. Pernyataan ini disampaikan kepada delegasi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), beberapa hari setelah perwakilan sipil dari kedua negara bertetangga itu melakukan perundingan pertama dalam beberapa dekade terakhir.
Aoun menekankan bahwa rakyat Lebanon telah terlalu lama menderita akibat perang dan tidak ingin mengulangi pengalaman pahit tersebut. "Lebanon tidak menginginkan perang lagi, rakyat Lebanon telah cukup menderita dan tidak akan ada jalan kembali," tegasnya, seperti dikutip dari pernyataan kepresidenan.

Dalam pertemuan tersebut, Aoun juga meminta dukungan dari para utusan PBB untuk upaya tentara Lebanon dalam melucuti senjata kelompok-kelompok non-negara. Ia meyakinkan bahwa tentara Lebanon akan memainkan peran penuhnya dalam rencana yang telah disetujui pemerintah, dan komunitas internasional diharapkan dapat memberikan dukungan serta bantuan yang diperlukan.
Meskipun demikian, situasi di perbatasan Lebanon-Israel masih rentan. Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, meskipun mendukung upaya diplomasi, mengkritik keterlibatan perwakilan sipil dalam perundingan dengan Israel. Selain itu, Israel masih mempertahankan pasukannya di lima wilayah Lebanon selatan yang dianggap strategis, meskipun gencatan senjata telah disepakati pada November 2024.
Pernyataan Aoun ini menjadi sinyal penting bagi perdamaian di kawasan tersebut. Namun, tantangan yang ada tetap besar dan membutuhkan komitmen kuat dari kedua belah pihak, serta dukungan dari komunitas internasional, untuk mewujudkan stabilitas dan keamanan yang berkelanjutan.

