Internationalmedia.co.id – Ratusan warga Serbia turun ke jalan memprotes rencana pembangunan hotel mewah di bekas markas tentara di Beograd. Proyek ini ternyata terkait dengan Jared Kushner, menantu mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memicu kontroversi dan perdebatan sengit di kalangan masyarakat.
Demonstrasi yang dipimpin oleh mahasiswa ini merupakan bentuk penolakan terhadap keputusan parlemen yang menggolongkan pembangunan kembali markas Angkatan Darat Yugoslavia yang dibom sebagai proyek mendesak. Keputusan ini dinilai mempercepat proses perizinan dan mengabaikan nilai sejarah serta budaya bangunan tersebut.

Keterlibatan Kushner, melalui perusahaannya Affinity Partners, menjadi isu sensitif karena gedung tersebut pernah menjadi sasaran serangan udara NATO yang dipimpin AS dalam perang Kosovo 1998-1999. Kecurigaan akan pemalsuan dokumen yang digunakan untuk mencabut status perlindungan bangunan sebagai "aset budaya" juga menambah keruhnya suasana.
"Mereka sekarang dapat menghancurkan bangunan ini secara legal, tetapi kami tidak akan mengizinkannya," tegas Valentina Moravcevic, seorang mahasiswa yang ikut berdemonstrasi, kepada televisi N1. "Kami di sini hari ini untuk memberi mereka peringatan dan memberi tahu mereka bahwa sejarah dan warisan budaya kami penting bagi kami."
Presiden Serbia, Aleksandar Vucic, membela proyek Affinity dan menyebutnya sebagai investasi besar bagi negara. Ia menekankan bahwa ini bukan penjualan, melainkan sewa jangka panjang yang akan meningkatkan nilai properti di Beograd dan menarik wisatawan. Namun, pembelaan ini tidak meredakan kemarahan warga yang merasa warisan budaya mereka terancam oleh kepentingan bisnis. Mitra kedua dalam proyek ini adalah pengembang properti yang berbasis di Uni Emirat Arab, Eagle Hills, yang telah terlibat dalam pembangunan kembali tepi sungai Beograd — proyek lain yang telah memicu protes publik.

