Internationalmedia.co.id melaporkan sebuah insiden tragis terjadi di perairan Malaysia, di mana sebuah kapal yang mengangkut sekitar 90 imigran ilegal dilaporkan tenggelam di dekat perbatasan Malaysia-Thailand. Akibat kejadian ini, satu orang perempuan ditemukan tewas dan puluhan lainnya masih hilang.
Kepala Kepolisian Kedah, Adzli Abu Shah, mengungkapkan bahwa kapal tersebut diduga terbalik sebelum tenggelam. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa terdapat laporan mengenai dua kapal lain dengan jumlah penumpang serupa yang juga hilang. Saat ini, operasi pencarian dan penyelamatan tengah diintensifkan untuk menemukan para korban selamat. Insiden ini diperkirakan terjadi di sekitar Pulau Tarutao, wilayah utara dari pulau wisata populer Langkawi.

Direktur Kelautan Negara Bagian Kedah, Romli Mustafa, mengkonfirmasi bahwa hingga saat ini, tim penyelamat telah menemukan 11 orang, termasuk satu jenazah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, para imigran ini awalnya menaiki sebuah kapal besar sebelum kemudian dipindahkan ke tiga kapal yang lebih kecil saat mendekati perbatasan dengan tujuan menghindari deteksi oleh pihak berwenang. Masing-masing kapal diperkirakan mengangkut sekitar 100 orang. Pihak berwenang menduga bahwa para imigran ini berangkat dari sebuah pantai di Myanmar sekitar tiga hari yang lalu.
Diduga kuat, sebagian besar imigran tersebut berasal dari minoritas Rohingya. Pihak berwenang mengkhawatirkan kemungkinan adanya korban lain yang belum ditemukan di laut.
Malaysia, sebagai negara yang relatif makmur, menjadi tujuan utama bagi jutaan migran dari negara-negara Asia yang lebih miskin. Banyak dari mereka yang tidak memiliki dokumen resmi bekerja di sektor konstruksi dan pertanian. Namun, perjalanan yang difasilitasi oleh sindikat perdagangan manusia seringkali penuh risiko dan berujung pada tragedi kapal tenggelam. Pada Desember 2021, lebih dari 20 migran tewas dalam serangkaian insiden serupa di perairan Malaysia.

