Korea Utara geram dengan pernyataan Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, terkait denuklirisasi Semenanjung Korea. Internationalmedia.co.id melaporkan, pernyataan tersebut disampaikan Lee saat kunjungannya ke Amerika Serikat pekan ini. Pyongyang menilai pernyataan Lee sebagai kemunafikan.
Lee, yang sejak Juni lalu berupaya mencairkan hubungan dengan Korut, sebelumnya berjanji membangun kepercayaan militer dengan negara komunis tersebut. Namun, Korut menegaskan tak tertarik memperbaiki hubungan dengan Korsel, sekutu utama AS di kawasan.

Dalam forum Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) di Washington DC, Lee menyatakan aliansi Korsel-AS akan ditingkatkan ke level global jika ada jalan menuju denuklirisasi, perdamaian, dan koeksistensi di Semenanjung Korea. Pernyataan ini langsung menuai kecaman keras dari Pyongyang.
Korean Central News Agency (KCNA), kantor berita resmi Korut, menuding Lee berpura-pura ingin memperbaiki hubungan, namun mengungkapkan "wajah aslinya sebagai maniak konfrontasi". KCNA menyebut pernyataan Lee soal denuklirisasi sebagai mimpi naif, sebagaimana upaya menangkap awan di langit.
Sebelumnya, Lee juga menegaskan komitmen bersama denuklirisasi penuh Semenanjung Korea dengan Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba. Namun, Korut menegaskan kembali pendiriannya untuk tak meninggalkan senjata nuklir demi menjaga martabat dan kehormatan negara.
Dalam pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump, Lee bahkan meminta bantuan Trump untuk mewujudkan perdamaian Korsel-Korut. Trump, yang pernah bertemu Kim Jong Un tiga kali, menyatakan harapan untuk bertemu kembali dengan pemimpin Korut tersebut. Pertemuan puncak sebelumnya di Hanoi yang membahas denuklirisasi, berakhir tanpa kesepakatan. Sikap keras Korut ini semakin memperumit upaya perdamaian di Semenanjung Korea.
