Ribuan warga Israel menyerbu jalanan Tel Aviv dalam demonstrasi besar-besaran, mendesak pemerintah untuk mengakhiri konflik berdarah di Gaza. Internationalmedia.co.id melaporkan, aksi ini merupakan salah satu demonstrasi terbesar sejak pecahnya perang pada tahun 2023. Para demonstran, yang sebagian besar membawa foto sandera Israel, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas nasib warga negara mereka yang masih ditawan di Gaza.
"Ini mungkin kesempatan terakhir kita untuk menyelamatkan sandera," seru Ofir Penso, seorang guru bahasa Arab, kepada wartawan. Pernyataan tersebut merefleksikan kegelisahan yang meluas di tengah masyarakat Israel, yang telah dilanda konflik selama hampir dua tahun. Dari 251 sandera yang awalnya diculik, 49 orang masih berada di Jalur Gaza, dengan 27 di antaranya diyakini telah tewas.

Lapangan Sandera Tel Aviv menjadi pusat aksi protes tersebut. Para demonstran, yang terdiri dari berbagai kalangan, menyatakan kekecewaan terhadap pemerintah. "Pemerintah tidak pernah menawarkan inisiatif yang tulus untuk perdamaian," tegas Einav Tzangauker, yang putranya menjadi salah satu sandera. Ia, bersama ribuan demonstran lainnya, menuntut kesepakatan komprehensif untuk mengakhiri perang dan membebaskan semua sandera.
Bukan hanya nasib sandera yang menjadi sorotan. Kekhawatiran atas nasib anak-anak mereka yang bertugas di militer Israel juga mewarnai demonstrasi. "Kami berharap pemerintah mendengarkan kami," ungkap Ella Kaufman, ibu dari dua prajurit yang bertugas di Gaza. Sentimen serupa diungkapkan oleh Nick, seorang pekerja teknologi yang merasa perang telah merusak citra Israel di mata dunia. Ia menambahkan, "Seluruh negeri sedang berperang satu sama lain, dan sudah cukup." Aksi ini menunjukkan gelombang protes yang semakin kuat dari dalam negeri Israel, mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah nyata demi perdamaian.
