Internationalmedia.co.id melaporkan, hujan monsun ekstrem di Pakistan utara telah memicu banjir bandang dan tanah longsor dahsyat, menewaskan sedikitnya 321 jiwa dan membuat warga setempat merasa seperti sedang mengalami kiamat. Angka korban tewas terus bertambah, dengan sebagian besar korban berasal dari Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, mencapai 307 orang. Korban lainnya tersebar di wilayah Kashmir yang dikuasai Pakistan (9 orang) dan Gilgit-Baltistan (5 orang).
Tragedi ini menyisakan pemandangan mengerikan. Rumah-rumah ambruk tertimbun lumpur, dan jenazah korban berserakan. Di antara korban tewas, terdapat 15 wanita dan 13 anak-anak di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa. Bahkan, dua pilot helikopter pemerintah turut menjadi korban saat menjalankan misi penyelamatan di tengah cuaca buruk. Azizullah, seorang warga distrik Buner, menggambarkan peristiwa tersebut sebagai "akhir dunia", begitu dahsyatnya guncangan tanah akibat derasnya air bah.

Bencana ini telah memicu kepanikan massal. Warga berhamburan menyelamatkan diri, sementara petugas penyelamat berjibaku mengevakuasi korban dari reruntuhan. Lebih dari 2000 petugas penyelamat dikerahkan, namun hujan deras dan jalan yang terputus menjadi kendala besar dalam proses evakuasi dan penyaluran bantuan. Bilal Ahmed Faizi, juru bicara badan penyelamat Khyber Pakhtunkhwa, mengungkapkan kesulitan dalam menjangkau daerah terpencil karena banyak jalan yang tertutup.
Pemerintah Provinsi Khyber Pakhtunkhwa telah menetapkan hari berkabung dan mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda duka. Badan meteorologi setempat telah mengeluarkan peringatan dini akan hujan lebat di wilayah barat laut Pakistan, mengimbau masyarakat untuk menghindari daerah rawan bencana. Tragedi ini menjadi pengingat akan betapa dahsyatnya kekuatan alam dan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.

