Ancaman mengerikan datang dari Hizbullah. Internationalmedia.co.id melaporkan, pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, melontarkan peringatan keras kepada pemerintah Lebanon. Ia mengancam akan memicu kekacauan besar jika pemerintah nekat melucuti senjata kelompoknya. Pernyataan ini disampaikan setelah pertemuan Qassem dengan pejabat keamanan tinggi Iran, Ali Larijani.
Qassem menegaskan, upaya pelucutan senjata Hizbullah akan berujung pada malapetaka. "Tidak akan ada kehidupan di Lebanon," ancamnya. Ia menilai rencana tersebut sebagai perintah dari Amerika Serikat dan Israel untuk melemahkan perlawanan Hizbullah. Lebih jauh, Qassem bahkan tak segan mengancam akan menyerang Kedutaan Besar AS di Beirut jika protes yang direncanakan berujung bentrokan.

Hizbullah, kata Qassem, tak akan menyerahkan senjata selama pendudukan dan agresi Israel berlanjut. Ia bahkan menyebut siap melancarkan perlawanan habis-habisan, mengingat pertempuran Karbala, jika perlu. Pernyataan ini disampaikan setelah pemerintah Lebanon, di bawah tekanan AS, memerintahkan militer untuk menyusun rencana pelucutan senjata Hizbullah pada akhir tahun.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, sebelumnya telah menegaskan tak ada kelompok yang diizinkan memiliki senjata atau bergantung pada dukungan asing. Namun, pernyataan Aoun tampaknya tak digubris Hizbullah. Qassem justru menuduh pemerintah Lebanon telah "menyerahkan" negara kepada Israel dan Amerika Serikat dengan mendukung rencana pelucutan senjata tersebut. Ia mendesak pemerintah untuk tidak tunduk pada tekanan asing.
Situasi ini semakin menegangkan, mengingat Hizbullah masih dalam kondisi lemah pasca perang dengan Israel tahun lalu. Ancaman Qassem menjadi pertanda bahaya bagi stabilitas Lebanon, yang kini berada di ambang konflik besar. Apakah pemerintah Lebanon akan mengabaikan ancaman ini? Atau, akankah Lebanon terjerumus ke dalam perang saudara?

