Internationalmedia.co.id melaporkan bahwa Amerika Serikat (AS) tengah berlomba membangun reaktor nuklir di Bulan dan Mars. NASA, badan antariksa AS, berambisi meluncurkan sistem pertama sebelum akhir dekade ini. Langkah ini, menurut arahan terbaru NASA yang diperoleh AFP, merupakan respons terhadap upaya kolaborasi China dan Rusia di bidang yang sama.
Arahan tersebut, yang ditandatangani oleh Plt. Kepala NASA Sean Duffy, juga menjabat Menteri Transportasi AS, menunjukkan pergeseran prioritas NASA ke eksplorasi luar angkasa di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Memo tertanggal 31 Juli ini memerintahkan penunjukan seorang "tsar nuklir" untuk memilih dua proposal komersial dalam waktu enam bulan.

NASA menyatakan keprihatinan atas setidaknya tiga upaya kolaborasi China dan Rusia untuk menempatkan reaktor nuklir di Bulan pada pertengahan tahun 2030-an. Keberhasilan negara lain terlebih dahulu, menurut NASA, berpotensi menciptakan zona eksklusif yang menghambat misi Artemis AS.
Gagasan pemanfaatan energi nuklir di luar angkasa bukan hal baru. Sejak tahun 2000, NASA telah menginvestasikan US$ 200 juta untuk pengembangan sistem fisi kecil dan ringan, meskipun belum ada yang siap terbang. Upaya terbaru meliputi penyelesaian tiga kontrak studi industri senilai US$ 5 juta untuk membangkitkan daya 40 kilowatt – cukup untuk 30 rumah tangga selama 10 tahun. Keunggulan sistem fisi dibandingkan tenaga surya terletak pada kemampuannya beroperasi terus menerus, penting di lingkungan Bulan atau Mars dengan malam yang panjang atau badai debu.
NASA secara resmi berkomitmen pada penggunaan tenaga nuklir di Mars pada Desember 2024, sebagai langkah pertama dari tujuh keputusan penting untuk eksplorasi manusia di Planet Merah. Proyek ini menargetkan daya 100 kilowatt untuk mendukung operasi jangka panjang, termasuk pemanfaatan sumber daya di lokasi, dan menargetkan peluncuran pada akhir tahun 2029. Proyek ini mengandalkan pendarat berat dengan kapasitas angkut hingga 15 metrik ton.

