Langkah mengejutkan terjadi di kancah politik Timur Tengah. Internationalmedia.co.id melaporkan, untuk pertama kalinya, negara-negara Arab secara bersama-sama mengecam serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Deklarasi keras ini menandai babak baru dalam hubungan antar negara di kawasan yang selama ini bergejolak.
Arab Saudi, Qatar, Mesir, Yordania, dan Turki termasuk di antara 17 negara yang menandatangani deklarasi tersebut. Mereka bergabung dengan Liga Arab (beranggotakan 22 negara) dan Uni Eropa dalam sebuah kesepakatan yang diumumkan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Deklarasi yang dijuluki "Deklarasi New York" ini menyerukan penghentian kekerasan dan menetapkan rencana bertahap untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung selama hampir delapan dekade.

Isi deklarasi tersebut tegas menuntut Hamas untuk melucuti senjata, membebaskan semua sandera, dan mengakhiri kekuasaannya di Gaza. Serangan Hamas yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dikutuk keras, sebuah langkah yang sebelumnya belum pernah terjadi. Namun, deklarasi tersebut juga mengecam serangan balasan Israel di Gaza yang mengakibatkan korban jiwa sipil, serta menyerukan penghentian pengepungan, pembatasan bantuan kemanusiaan, dan pembangunan permukiman di Tepi Barat.
Prancis dan Arab Saudi memimpin inisiatif ini, menyebut deklarasi tersebut sebagai langkah "bersejarah dan belum pernah terjadi sebelumnya." Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, menyatakan bahwa ini adalah pertama kalinya negara-negara Arab dan Timur Tengah secara terbuka mengutuk Hamas dan menyerukan perlucutan senjata serta normalisasi hubungan dengan Israel di masa depan. Meskipun deklarasi tersebut menyebutkan "integrasi regional penuh" dan "koeksistensi damai," belum ada pernyataan eksplisit mengenai pembentukan hubungan diplomatik penuh dengan Israel.
Deklarasi ini ditandatangani oleh beragam negara, termasuk Indonesia, Inggris, Kanada, Irlandia, Spanyol, Italia, Jepang, Brasil, Meksiko, Norwegia, dan Senegal. Rencana selanjutnya meliputi kemungkinan pengerahan pasukan internasional untuk menstabilkan Gaza setelah perang berakhir, sebuah langkah yang akan menjadi fokus perhatian dunia internasional. Akankah deklarasi ini menjadi titik balik dalam konflik berkepanjangan ini? Kita tunggu perkembangan selanjutnya.

