Internationalmedia.co.id melaporkan, perang di Gaza yang telah berlangsung lebih dari 20 bulan mendapat kecaman keras dari berbagai pihak. Yair Lapid, pemimpin oposisi Israel, mendesak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk segera mengakhiri konflik tersebut. Desakan ini muncul seiring meningkatnya tekanan internasional dan domestik untuk menghentikan pertempuran yang telah menimbulkan kerugian besar.
Menurut laporan internationalmedia.co.id, Lapid menyatakan bahwa melanjutkan perang di Gaza tidak lagi menguntungkan Israel, malah menimbulkan kerusakan pada berbagai sektor, termasuk keamanan, politik, dan ekonomi. Pernyataan ini bahkan didukung oleh kalangan militer. Lapid mengutip Kepala Staf Eyal Zamir yang menyampaikan kepada kabinet bahwa militer telah kehabisan tujuan di Gaza, sehingga keputusan selanjutnya harus diambil oleh pihak politik.

Konflik yang bermula dari serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 1.219 warga sipil Israel. Meskipun Israel bertekad menghancurkan Hamas, kelompok tersebut masih bertahan di Jalur Gaza setelah lebih dari setahun setengah pertempuran yang menghancurkan. Lapid menyarankan agar Israel meminta bantuan Mesir dan negara-negara Arab lainnya untuk menyelesaikan masalah ini, karena menurutnya, Hamas tidak akan tersingkir tanpa adanya perubahan pemerintahan di Gaza.
Sementara itu, Netanyahu, mengklaim bahwa gencatan senjata dengan Iran menciptakan peluang baru, termasuk pembebasan sandera. Ia menyatakan bahwa menyelesaikan masalah Gaza dan mengalahkan Hamas merupakan dua tujuan yang akan dicapai. Perlu diingat, serangan Hamas pada Oktober 2023 telah menyandera 251 orang, dan 49 di antaranya diyakini masih ditahan di Gaza. Di sisi lain, serangan balasan Israel telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa sedikitnya 56.531 warga Gaza, sebagian besar merupakan warga sipil. Angka ini dianggap kredibel oleh PBB. Situasi ini semakin menegangkan dan membutuhkan solusi segera untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak lagi.
