Langkah mengejutkan diambil Israel pasca gencatan senjata dengan Iran. Internationalmedia.co.id melaporkan, Tel Aviv resmi menetapkan Bank Sentral Iran sebagai organisasi teroris. Pengumuman ini disampaikan sehari setelah berakhirnya pertempuran udara selama 12 hari antara kedua negara yang dimulai sejak 13 Juni lalu.
Menurut Kementerian Pertahanan Israel, keputusan ini merupakan bagian dari kampanye yang lebih luas untuk membendung pendanaan kelompok-kelompok militan yang didukung Iran di Timur Tengah. Tidak hanya Bank Sentral, dua bank Iran lainnya dan sebuah perusahaan afiliasi Angkatan Bersenjata Iran juga turut masuk dalam daftar hitam tersebut. Menteri Pertahanan Israel, Katz, langsung menandatangani perintah khusus yang menetapkan lembaga-lembaga keuangan itu sebagai organisasi teroris.

Tujuan utama langkah ini, jelas Kementerian Pertahanan, adalah untuk melumpuhkan sistem pendanaan inti rezim Iran yang selama ini dituduh mendanai, mempersenjatai, dan mengarahkan aksi teror di kawasan tersebut. Konflik bayangan antara Israel dan Iran memang telah berlangsung selama beberapa dekade, dengan Tel Aviv secara konsisten melawan berbagai kelompok yang didukung Teheran, termasuk Hamas di Jalur Gaza.
Serangan-serangan yang dilancarkan Israel sejak 13 Juni lalu, yang menargetkan fasilitas nuklir dan militer Iran, diklaim bertujuan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Klaim ini dibantah Teheran yang menegaskan program nuklirnya bersifat damai. Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, bahkan menyatakan bahwa serangan-serangan tersebut telah berhasil menghambat program nuklir Iran selama beberapa tahun ke depan dan kini memasuki fase baru. Ia menyebut Israel telah berhasil menghilangkan "ancaman eksistensial ganda" dari Iran, yaitu program nuklir dan rudal balistiknya. Namun, gencatan senjata ini tidak serta merta mengakhiri konflik, melainkan menandai babak baru dalam pertarungan antara kedua negara.
