Berita mengejutkan datang dari Internationalmedia.co.id. Laporan intelijen Amerika Serikat (AS) terbaru mengungkap fakta mengejutkan terkait serangan militer AS ke fasilitas nuklir Iran. Serangan yang digaungkan sebagai keberhasilan gemilang oleh Presiden Donald Trump ternyata tak seefektif yang diklaim.
Menurut penilaian awal Badan Intelijen Pertahanan (DIA), serangan tersebut hanya menunda program nuklir Iran beberapa bulan, bukan menghancurkannya sepenuhnya. Empat sumber yang diberi pengarahan tentang hal ini mengungkapkan bahwa kerusakan yang ditimbulkan lebih kecil dari yang digembar-gemborkan. Persediaan uranium yang diperkaya Iran, misalnya, sebagian besar masih utuh. Bahkan, beberapa sentrifus dilaporkan masih berfungsi.

Klaim Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang menyebut serangan itu "benar-benar dan sepenuhnya menghancurkan" fasilitas nuklir Iran pun langsung dibantah. Gedung Putih sendiri mengakui adanya penilaian DIA, namun membantahnya dengan menyebut laporan tersebut sebagai kebocoran informasi rahasia yang dilakukan oleh "pecundang anonim".
Penilaian DIA didasarkan pada analisis kerusakan yang dilakukan Komando Pusat AS pasca serangan. Analisis kerusakan dan dampak serangan terhadap ambisi nuklir Iran masih berlangsung, dan temuan awal ini jelas bertentangan dengan pernyataan pejabat tinggi AS. Serangan menggunakan bom penghancur bunker seberat 30.000 pon di dua fasilitas nuklir, Fordow dan Natanz, serta rudal Tomahawk di Isfahan, ternyata hanya merusak bangunan di atas tanah.
Meskipun Israel juga melancarkan serangan sebelumnya dan mengklaim telah menunda program nuklir Iran selama dua tahun, penilaian dampak serangan AS menunjukkan hasil yang kurang signifikan. Bahkan, anggota DPR Partai Republik Michael McCaul mengakui bahwa serangan tersebut memang tidak dirancang untuk menghancurkan fasilitas nuklir sepenuhnya, melainkan hanya menyebabkan kerusakan signifikan dan kemunduran sementara.
Jeffrey Lewis, ahli senjata dari Middlebury Institute of International Studies, menambahkan bahwa fasilitas nuklir yang tersisa dapat dengan cepat digunakan untuk membangun kembali program nuklir Iran. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa serangan AS tidak seefektif yang diklaim. Misteri ini semakin dalam mengingat penundaan pengarahan rahasia kepada anggota DPR dan Senat terkait operasi tersebut. Apakah ada yang disembunyikan? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.
