Internationalmedia.co.id melaporkan reaksi internasional atas serangan Amerika Serikat (AS) terhadap fasilitas nuklir Iran yang menimbulkan gelombang kecaman dan keprihatinan global. PBB, melalui Sekretaris Jenderal Antonio Guterres, menyatakan "sangat khawatir" atas eskalasi tersebut. Guterres menekankan bahaya peningkatan konflik dan menyerukan semua pihak untuk de-eskalasi, menyatakan bahwa "tidak ada solusi militer, satu-satunya jalan ke depan adalah diplomasi."
Beberapa negara Amerika Latin langsung mengecam tindakan AS. Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, melalui akun X-nya, menyebut serangan itu sebagai "eskalasi berbahaya" yang melanggar hukum internasional dan berpotensi memicu krisis tak terkendali. Sentimen serupa diungkapkan Presiden Chili, Gabriel Boric, yang menuntut perdamaian. Venezuela melalui Kementerian Luar Negeri-nya mengutuk keras "agresi militer" tersebut.

Sementara itu, negara-negara lain seperti Kolombia dan Meksiko menyerukan dialog dan de-eskalasi. Kolombia mendesak negosiasi sebagai solusi, sedangkan Meksiko menekankan pentingnya pemulihan perdamaian di kawasan tersebut.
Bahkan kelompok Palestina Hamas turut mengecam serangan AS, menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional dan ancaman terhadap perdamaian dunia. Hamas, yang memiliki hubungan dekat dengan Iran, berjanji akan meminta pertanggungjawaban AS dan Israel atas tindakan tersebut. Reaksi keras dari berbagai pihak ini menunjukkan keprihatinan global yang meluas atas potensi konflik yang lebih besar di Timur Tengah.
