Internationalmedia.co.id melaporkan situasi memanas di Timur Tengah. Ketegangan antara Iran dan Israel meningkat tajam, ditandai dengan pengerahan satu lagi kapal induk Amerika Serikat (AS) ke kawasan Eropa, yang secara strategis lebih dekat dengan Timur Tengah. Langkah ini menambah jumlah kapal induk AS di dekat wilayah konflik menjadi tiga. Seorang pejabat Angkatan Laut AS yang enggan disebutkan namanya mengonfirmasi USS Gerald Ford akan berlayar ke wilayah tersebut pekan depan.
Presiden AS Donald Trump memberikan ultimatum kepada Iran. Ia memberikan tenggat waktu dua minggu bagi Iran untuk menghindari potensi serangan udara AS. Trump bahkan menyatakan kemungkinan besar tidak akan menghentikan Israel jika menyerang Iran, dengan alasan Israel berada dalam posisi "menang". Upaya mediasi dari negara-negara Eropa pun diabaikan oleh Trump.

Situasi semakin runyam. Irak menuduh 50 pesawat tempur Israel telah melanggar wilayah udaranya. Tuduhan ini disampaikan oleh perwakilan Irak untuk PBB, Abbas Kadhom Obaid Al-Fatlawi, di tengah pertemuan PBB yang membahas konflik Iran-Israel.
Di sisi lain, Israel mengklaim telah membunuh Saeed Izadi, seorang komandan senior Pasukan Quds Iran yang juga bertindak sebagai koordinator militer antara Iran dan Hamas. Serangan yang dilakukan oleh jet tempur Israel ini terjadi di wilayah Qom, Iran.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin membela Iran. Ia menyatakan bahwa Rusia dan IAEA (Badan Energi Atom Internasional) tidak menemukan bukti bahwa Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, sebuah pernyataan yang disampaikan di tengah meningkatnya pertempuran udara antara Iran dan Israel. Pernyataan Putin ini jelas menunjukkan dukungan tersiratnya kepada Iran. Situasi ini tentu saja semakin memperumit dan meningkatkan potensi eskalasi konflik di Timur Tengah.
