Upaya pemadaman kebakaran hebat di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga, Bogor, Jawa Barat, masih terus berlangsung. Meskipun tim gabungan telah bekerja tanpa henti, sisa bara api masih melahap sekitar 2,4 hektare dari total 8,4 hektare lahan yang sebelumnya terbakar. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, perjuangan memadamkan api ini telah memasuki hari kedelapan, menunjukkan kompleksitas dan tantangan yang dihadapi petugas di lapangan.
Bupati Bogor Rudy Susmanto mengungkapkan, api pertama kali berkobar pada 7 September, menghanguskan 5,5 hektare. Luasan area terdampak kemudian meluas drastis menjadi 8,4 hektare pada 8 September. "Kita melakukan intervensi-intervensi menjadi 7 hektare, 6 hektare, 5 hektare. Alhamdulillah hari kedelapan, di Senin dini hari, di wilayah utara masih tersisa 1,4 hektare, di wilayah timur tersisa 1.000 meter persegi. Di wilayah pengelolaan sampah Kabupaten Bogor di wilayah selatan Alhamdulillah sudah tuntas," ujar Rudy pada Senin dini hari (14/9). Ini menunjukkan penurunan signifikan dari luasan awal, berkat kerja keras tim.

TPAS Galuga, yang membentang seluas 40 hektare, merupakan fasilitas vital sebagai tempat pengelolaan sampah bagi Kota dan Kabupaten Bogor. Rudy Susmanto mengapresiasi kolaborasi tanpa henti dari berbagai pihak, termasuk pemerintah kota dan kabupaten, TNI, Polri, BPBD, Damkar, serta dukungan dari DLH dan PMI, yang bahu-membahu melakukan pemadaman selama 24 jam. "Alhamdulillah membuahkan hasil yang cukup signifikan. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak lama, api bisa tuntas padam semuanya," harap Rudy saat meninjau langsung lokasi.
Salah satu strategi krusial yang diterapkan tim gabungan adalah pembangunan embung atau penampungan air darurat di tengah gunungan sampah. Inisiatif ini diambil untuk mengatasi sulitnya akses mobil pemadam kebakaran ke titik-titik api yang tersembunyi. "Hari ini kita mendekatkan sumber air, sehingga di tengah-tengah TPA Galuga kita membuat beberapa embung-embung air. Embungnya sederhana, kedalaman hanya sekitar 1-2 meter menggunakan terpal. Mudah-mudahan esok hari membuahkan hasil yang jauh lebih baik lagi," jelas Rudy, menggambarkan upaya inovatif di lapangan.
Kondisi medan yang ekstrem menjadi kendala utama. "Akses yang ditempuh dengan berjalan kaki jaraknya cukup jauh. Mobil tidak bisa masuk ke sini, motor juga tidak bisa masuk ke sini, hanya alat berat yang bisa masuk," terang Rudy. Sebelumnya, pada Jumat (11/9), Rudy juga sempat melaporkan bahwa luas area terdampak kebakaran mencapai sekitar 7,1 hektare, setelah sebelumnya bermula dari 1,7 hektare dan meluas menjadi 5 hektare. Data ini mencakup lahan di luar TPAS serta area pengelolaan sampah milik Pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor.
Tantangan lain adalah keberadaan bara api yang tersembunyi di dalam timbunan sampah. Meskipun kobaran api besar sudah tidak terlihat, kepulan asap tebal yang terus muncul dari gundukan-gundukan sampah mengindikasikan masih adanya bara yang aktif di bagian dalam. Untuk mengatasinya, petugas menggunakan alat berat untuk membongkar tumpukan sampah, menyemprotkan air untuk mendinginkan, sebelum kemudian menutupnya kembali. "Kalau dilihat, apinya tidak terlihat. Namun, asap terus mengepul sedikit-sedikit dan di dalamnya ternyata masih ada bara api. Kami bongkar satu per satu lalu didinginkan," pungkas Rudy, menegaskan metode yang digunakan untuk memadamkan api secara tuntas.
