Internationalmedia.co.id – News – Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menyuarakan desakan kuat agar penguatan literasi, numerasi, dan integrasi pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) tidak hanya berhenti pada tataran wacana. Menurutnya, inisiatif yang digulirkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini memerlukan konsistensi kebijakan yang konkret dan berkelanjutan di lapangan, bukan sekadar seremoni belaka.
Lestari, yang akrab disapa Rerie, menekankan bahwa kebijakan pendidikan yang berkualitas tidak cukup hanya diumumkan. "Yang menentukan adalah apakah ia konsisten dijalankan, dievaluasi, dan diperbaiki dari waktu ke waktu," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima internationalmedia.co.id pada Minggu (13/9/2026).

Menanggapi berbagai langkah strategis Kemendikdasmen dalam mentransformasi pendidikan, anggota Komisi X DPR RI ini menyoroti masih besarnya tantangan fundamental yang dihadapi Indonesia. Data Asesmen Nasional 2025, misalnya, menunjukkan bahwa hanya 55,7 persen siswa sekolah dasar yang berhasil mencapai batas minimum kompetensi literasi membaca. Lebih lanjut, sekitar 50 persen siswa secara nasional masih belum memenuhi standar kompetensi minimum dalam literasi dan numerasi.
"Angka-angka ini jelas mengindikasikan bahwa persoalan kualitas pembelajaran belum sepenuhnya teratasi. Meskipun akses pendidikan itu penting, kualitas harus tetap menjadi prioritas utama," tegas Rerie, mengingatkan.
Ia juga menyoroti hasil PISA, di mana kenaikan skor sains dan membaca patut diapresiasi, namun penurunan skor matematika menjadi alarm serius. "Kenaikan di beberapa bidang perlu diapresiasi, tetapi penurunan di matematika menjadi catatan merah yang harus direspons serius," kata Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem tersebut.
Rerie menggarisbawahi tiga pilar konsistensi yang krusial. Pertama, penguatan kapasitas guru harus menjadi prioritas berkelanjutan, bukan sekadar program sporadis. Ia menegaskan, "Pelatihan guru dalam komunitas belajar, pembelajaran STEM, coding, dan kecerdasan artifisial harus benar-benar sampai ke kelas dan memberikan dampak pada cara mengajar."
Kedua, program literasi dan numerasi wajib diintegrasikan secara sistematis ke dalam asesmen dan kurikulum, meniru keberhasilan sekolah-sekolah unggulan. "Yang harus dijamin adalah keberlanjutan praktik baik ini. Jangan sampai hanya bergantung pada sosok kepala sekolah atau guru tertentu. Sistemnya harus kuat," jelasnya.
Ketiga, legislator dari Dapil II Jawa Tengah ini menyoroti kesenjangan digital yang mencolok. Data BPS menunjukkan kepemilikan perangkat belajar seperti komputer atau laptop di perkotaan mencapai 65 persen, jauh berbeda dengan pedesaan yang hanya sekitar 28 persen. "Ketimpangan ini akan menghambat transformasi yang berbasis teknologi. Diperlukan intervensi khusus untuk daerah-daerah tertinggal," tegas Rerie.
Rerie juga mengapresiasi pendekatan ‘Belajar Mendalam’ yang bertujuan membuat proses belajar mengajar lebih bermakna. Namun, ia mengingatkan bahwa pendekatan ini memerlukan dukungan sumber daya yang komprehensif, mulai dari bahan ajar hingga peningkatan kesejahteraan pendidik. "Tanpa dukungan menyeluruh, perubahan pendekatan hanya akan membebani guru di lapangan," pungkasnya.
Untuk membangun fondasi nalar kritis generasi bangsa, kolaborasi kuat antara pemerintah, sekolah, masyarakat, dan orang tua adalah mutlak. "Literasi dan numerasi bukan sekadar target asesmen. Ini adalah fondasi daya saing bangsa. Kita harus konsisten, sabar, dan serius menjalankannya," tutup Rerie, menyerukan komitmen bersama demi masa depan pendidikan Indonesia.
