Internationalmedia.co.id – News – Sebuah kisah mengejutkan datang dari Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri. Ia mengungkapkan pengalamannya menjadi korban penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI), di mana wajahnya tiba-tiba muncul dalam sebuah iklan penjualan kue tanpa izin. Kejadian ini diceritakan Megawati saat berdialog dengan Presiden Timor Leste José Ramos Horta dan para ilmuwan peraih Nobel serta Turing Award di Megawati Institute, Jakarta Pusat, pada Jumat (28/8/2026).
Megawati menyatakan rasa terkejutnya saat pertama kali melihat iklan tersebut. "Saya juga, para hadirin, itu sudah mengalami. Ini sebuah anekdot juga," ujar Megawati, menceritakan bagaimana wajahnya, wajah anaknya, dan satu orang lainnya dari lingkaran terdekatnya digunakan sebagai model dalam iklan kue tersebut. Ia bahkan sempat kebingungan, bertanya-tanya kapan ia pernah memesan kue yang diiklankan itu. Barulah kemudian ia menyadari bahwa konten visual tersebut sepenuhnya dihasilkan oleh kecerdasan buatan. "Jadi, saya sampai kaget, kapan saya pesen kuenya ya? Itu ternyata dengan AI dilakukan seperti itu," tambahnya, menggambarkan betapa canggihnya manipulasi AI.

Ketua Umum PDI Perjuangan itu lantas menekankan pentingnya penggunaan AI secara bertanggung jawab. Megawati menyuarakan kekhawatirannya bahwa teknologi canggih ini dapat disalahgunakan untuk menciptakan konten yang berpotensi memicu berbagai masalah. "Jangan sampai hal-hal yang tidak diinginkan terjadi karena penyalahgunaan teknologi ini," tegasnya, menggarisbawahi perlunya etika dalam pengembangan dan penerapan AI.
Megawati berpendapat bahwa kemajuan AI seharusnya selalu berorientasi pada kemaslahatan umat manusia. Ia juga mempertanyakan apakah krisis global saat ini masih disebabkan oleh minimnya pengetahuan atau teknologi. "Apakah kita masih kekurangan pengetahuan dan teknologi? Menurut saya, sebenarnya sudah begitu banyak segala pengetahuan," ujarnya. Oleh karena itu, ia menegaskan kembali bahwa AI dan inovasi lainnya harus dimanfaatkan demi kepentingan bersama, mengingat bahwa bumi ini adalah satu-satunya rumah bagi seluruh umat manusia.
Menurut Megawati, tantangan sesungguhnya bukan pada ketersediaan pengetahuan atau teknologi, melainkan pada bagaimana semua itu dapat diterapkan secara bijak dan tepat guna. Khususnya bagi negara berkembang seperti Indonesia, ia menekankan pentingnya sikap kritis agar teknologi dan data tidak menjadi instrumen hegemoni baru. "Kita harus memperkuat tanggung jawab kemanusiaan agar kemajuan teknologi, termasuk AI, juga berorientasi pada kesetaraan antar-bangsa dan tata dunia yang semakin berkeadilan," pungkasnya, menyerukan agar inovasi digital tidak melahirkan ketimpangan baru.
