Internationalmedia.co.id – News – Sosok Ondel-ondel, boneka raksasa berwajah khas yang akrab di mata masyarakat, telah lama menjadi ikon tak terpisahkan dari kebudayaan Betawi. Jauh melampaui sekadar hiburan atau memori masa kecil yang kadang menakutkan, Ondel-ondel menyimpan warisan filosofis mendalam yang menjadikannya simbol kebanggaan Jakarta.
Menurut informasi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pada mulanya, masyarakat Betawi menciptakan Ondel-ondel sebagai representasi penjaga. Boneka ini dipercaya memiliki kekuatan untuk menangkal berbagai gangguan dan melindungi warga dari marabahaya. Kehadirannya selalu berpasangan: Ondel-ondel laki-laki dengan wajah merah melambangkan keberanian dan kekuatan, sementara Ondel-ondel perempuan berwajah putih mencerminkan kebaikan dan kesucian.

Di bagian atas kepala setiap Ondel-ondel, terdapat hiasan berwarna-warni yang dikenal sebagai kembang kelapa. Ornamen ini bukan sekadar pemanis, melainkan simbol harapan, kemakmuran, dan kehidupan yang senantiasa tumbuh dan berkembang. Dulu, tampilan Ondel-ondel memang terkesan garang, bahkan dilengkapi taring. Namun, seiring waktu, penampilannya disesuaikan menjadi lebih ramah dan bersahabat, tanpa menghilangkan makna aslinya sebagai simbol perlindungan. Kini, Ondel-ondel telah bertransformasi menjadi salah satu pilar budaya Betawi yang kerap memeriahkan berbagai perayaan. Tak jarang, kita masih bisa menjumpainya berkeliling di beberapa sudut kota Jakarta, diiringi alunan musik khas Betawi yang meriah.
Menurut catatan internationalmedia.co.id, Ondel-ondel seringkali menjadi daya tarik utama dalam perayaan hari ulang tahun Kota Jakarta. Kerangka boneka ini umumnya terbuat dari anyaman bambu, menjadikannya ringan saat dipikul. Bagian kepala kemudian dibentuk menjadi topeng, sementara rambutnya terbuat dari ijuk yang dibalut kertas warna-warni, menciptakan tampilan rambut yang unik.
Proses pembuatan boneka raksasa asli Betawi ini tidaklah sederhana, seringkali diiringi dengan ritual penyediaan sesajen. Sajian tersebut meliputi bubur merah-putih, rujak tujuh rupa, aneka bunga tujuh macam, serta pembakaran kemenyan. Setelah Ondel-ondel selesai dibuat, sesajen dan pembakaran kemenyan kembali dilakukan, bahkan disertai pembacaan mantera-mantera yang ditujukan kepada roh halus yang diyakini bersemayam di dalamnya.
Dalam seni pertunjukan, Ondel-ondel tidak pernah tampil sendirian. Ia selalu ditemani oleh iringan musik khas Betawi yang dinamis, seperti gendang, kentongan, rebana, gong, dan biola Betawi. Tak jarang, pertunjukan ini juga disemarakkan dengan atraksi pencak silat, menambah kekayaan budaya yang ditampilkan.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya Betawi yang luhur ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan larangan penggunaan Ondel-ondel untuk tujuan mengemis. Kebijakan ini menegaskan komitmen untuk menjaga martabat dan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam ikon kebanggaan Ibu Kota ini.
