Internationalmedia.co.id – News – Setiap tanggal 17 Juni, dunia serentak memperingati Hari Dunia untuk Memerangi Penggurusan dan Kekeringan (World Day to Combat Desertification and Drought). Peringatan ini menjadi momentum krusial untuk menyadarkan publik global akan ancaman serius degradasi lahan yang berdampak pada keanekaragaman hayati, keamanan ekologi, upaya pengentasan kemiskinan, stabilitas sosial-ekonomi, hingga pembangunan berkelanjutan. Khususnya untuk tahun 2026, fokus perhatian akan diarahkan pada peran vital lahan penggembalaan.
Penggurusan lahan, seperti yang diulas oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui situs resminya, bukanlah sekadar masalah lokal, melainkan krisis global yang mengancam keberlangsungan hidup di planet ini. Fenomena ini merupakan degradasi ekosistem lahan kering yang terus-menerus, dipicu oleh kombinasi perubahan iklim dan aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab.

Berbagai faktor pemicu penggurusan meliputi praktik pertanian yang tidak berkelanjutan yang menguras nutrisi tanah, aktivitas penambangan, penggembalaan ternak berlebihan yang mengikis lapisan atas tanah, serta penebangan hutan secara masif untuk kayu bakar atau pembukaan lahan. Ketika pohon dan semak-semak yang berfungsi mengikat tanah dihilangkan, ekosistem lahan kering menjadi rentan dan terus terdegradasi.
Isu penggurusan lahan, bersama dengan perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati, telah diidentifikasi sebagai tantangan terbesar bagi pembangunan berkelanjutan sejak KTT Bumi Rio pada tahun 1992. Menindaklanjuti urgensi ini, Majelis Umum PBB pada tahun 1994 membentuk Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Memerangi Penggurusan (UNCCD). UNCCD merupakan satu-satunya perjanjian internasional yang mengikat secara hukum, yang secara spesifik menghubungkan lingkungan dan pembangunan dengan pengelolaan lahan berkelanjutan. Melalui resolusi A/RES/49/115, tanggal 17 Juni secara resmi dideklarasikan sebagai "Hari Dunia untuk Memerangi Penggurusan dan Kekeringan".
Komitmen global semakin diperkuat pada tahun 2007, ketika Majelis Umum PBB mendeklarasikan periode 2010-2020 sebagai Dekade Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Gurun dan Perjuangan Melawan Penggurusan. Inisiatif ini bertujuan memobilisasi aksi global dalam memerangi degradasi lahan, yang kembali dipimpin oleh Sekretariat UNCCD. Saat ini, 197 negara anggota UNCCD, termasuk 169 di antaranya yang terdampak langsung penggurusan, berkolaborasi aktif untuk memelihara dan memulihkan produktivitas lahan dan tanah, serta mengurangi dampak kekeringan di daerah-daerah kering yang rentan.
Untuk peringatan tahun 2026, fokus utama akan tertuju pada "Rangelands" atau lahan penggembalaan. Ekosistem ini, yang mencakup lebih dari separuh permukaan daratan Bumi, seringkali terabaikan namun memegang peran krusial dalam ketahanan pangan, siklus air, konservasi keanekaragaman hayati, dan ketahanan iklim. Lahan penggembalaan menopang kehidupan sekitar dua miliar orang di seluruh dunia, termasuk banyak peternak dan masyarakat adat yang pengetahuan serta praktik pengelolaannya telah melestarikan lanskap ini selama beberapa generasi.
Dengan mengusung tema "Rangelands: Recognize. Respect. Restore." (Lahan Penggembalaan: Kenali. Hormati. Pulihkan.), peringatan tahun ini menyerukan pengakuan yang lebih besar terhadap nilai ekonomi, ekologi, dan budaya lahan penggembalaan. Selain itu, penting untuk menghormati para penjaga tradisionalnya serta menginvestasikan upaya yang lebih kuat dalam memulihkan lahan penggembalaan yang terdegradasi.
Data menunjukkan bahwa hingga separuh lahan penggembalaan di dunia telah mengalami degradasi atau berisiko tinggi mengalami degradasi. Kondisi ini membawa konsekuensi serius bagi ketahanan pangan dan air, keanekaragaman hayati, ketahanan iklim, dan mata pencarian masyarakat pedesaan. Investasi dalam pengelolaan lahan dan air berkelanjutan, peningkatan kesiapan menghadapi kekeringan, serta program restorasi yang dipimpin oleh masyarakat adalah langkah-langkah kunci untuk mengamankan lanskap vital ini dan kehidupan yang bergantung padanya.
Ini adalah seruan mendesak: saatnya bagi kita semua untuk mengakui nilai tak ternilai dari lahan penggembalaan, menghormati kearifan lokal para penjaganya, dan bersama-sama memulihkan lanskap ini demi keberlanjutan generasi mendatang.
