Sebuah fenomena alam yang jarang terjadi kini melanda Korea Utara, memicu kekhawatiran serius terhadap ketahanan pangan negara terisolasi tersebut. Kekeringan parah dan tidak biasa dilaporkan tengah terjadi, memaksa pemerintah untuk mengambil langkah-langkah darurat demi menyelamatkan hasil pertanian, demikian dilaporkan Internationalmedia.co.id – News. Kondisi ini semakin memperparah situasi, mengingat Pelapor Khusus PBB untuk hak asasi manusia di Korea Utara, Elizabeth Salmon, telah menyatakan pada Februari lalu bahwa kekurangan pangan sudah menjadi perhatian utama di negara tersebut.
Kantor berita pemerintah Korea Utara, KCNA, mengonfirmasi bahwa kekeringan ekstrem ini "terus berlanjut di sebagian besar wilayah negara," sebuah kondisi yang "jarang terlihat pada tahun-tahun sebelumnya." Laporan tersebut menyoroti upaya kolektif para pekerja di berbagai daerah yang "memusatkan semua upaya untuk melindungi tanaman awal musim dari dampak kekeringan."

Untuk mengatasi krisis ini, KCNA merinci bahwa pemerintah kota dan kabupaten telah diinstruksikan untuk "melakukan perbaikan pada pintu air waduk dan saluran air" guna menyesuaikan dengan pasokan air yang menyusut drastis. Selain itu, langkah-langkah teknis canggih sedang diterapkan untuk "meminimalkan kerusakan akibat kekeringan, meningkatkan ketahanan gandum dan jelai terhadap kondisi kering, serta memastikan pertumbuhan tanaman awal musim yang stabil."
Keterisolasian dan infrastruktur yang rentan membuat Korea Utara sangat rentan terhadap dampak bencana alam semacam ini. Fenomena kekeringan bukan hanya melanda Korut. Tetangga selatannya, Korea Selatan, yang merupakan ekonomi terbesar keempat di Asia, juga menghadapi kekeringan berkepanjangan tahun lalu, khususnya di kota pesisir Gangneung. Krisis air di sana bahkan memaksa pihak berwenang untuk memberlakukan pembatasan ketat, termasuk mematikan 75 persen meteran air rumah tangga di seluruh kota.
Tahun lalu, kedua Korea mencatat rekor suhu ekstrem; Korea Selatan mengalami musim panas terpanas dalam sejarah, sementara Korea Utara menghadapi Juni terpanas. Para ahli iklim global mengaitkan peningkatan frekuensi dan intensitas gelombang panas ini dengan perubahan iklim. Ditambah lagi, fenomena cuaca El Nino musiman diperkirakan akan kembali tahun ini, berpotensi membawa panas ekstrem, kekeringan, atau bahkan hujan lebat yang tidak menentu ke berbagai wilayah di Asia, termasuk Semenanjung Korea.
