Internationalmedia.co.id – News – Sebuah pengumuman mengejutkan datang dari Gedung Putih. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengumumkan perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon selama tiga minggu ke depan. Namun, kabar baik ini terselubung oleh insiden tragis yang terjadi hanya beberapa hari sebelumnya, di mana serangan militer Israel menewaskan lima orang di Lebanon, termasuk seorang jurnalis, di tengah periode gencatan senjata yang seharusnya berlaku.
Trump menyampaikan pengumuman ini melalui media sosial pada Jumat (24/4/2026), menyatakan harapannya agar kesepakatan damai permanen dapat tercapai tahun ini. Dengan optimisme, Trump menyatakan, "Saya pikir ada peluang yang sangat besar untuk mencapai perdamaian. Menurut saya, ini seharusnya menjadi hal yang mudah." Mengutip laporan Aljazeera, Trump juga mengisyaratkan akan segera menjamu para pemimpin dari kedua negara, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun, di Gedung Putih dalam beberapa minggu ke depan.

Ironisnya, di tengah upaya diplomatik ini, militer Israel justru melancarkan serangkaian serangan udara di wilayah Lebanon pada Rabu (22/4), tepat saat gencatan senjata seharusnya berlaku. Serangan rudal tersebut merenggut nyawa lima warga sipil Lebanon.
Di antara para korban, nama Amal Khalil, seorang jurnalis, mencuat. Ia tewas saat menjalankan tugas peliputan di dekat kota al-Tayri bersama fotografer Zeinab Faraj. Menurut laporan The Guardian yang terbit Kamis (23/4), kendaraan yang mereka gunakan untuk meliput dihantam rudal Israel. Keduanya berupaya mencari perlindungan di sebuah rumah terdekat, namun nahas, rumah tersebut juga tak luput dari serangan, demikian keterangan dari Kementerian Kesehatan Lebanon.
Tim penyelamat berhasil mengevakuasi Zeinab Faraj dengan luka di kepala, namun Amal Khalil ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di bawah reruntuhan bangunan. Lebih jauh, Kementerian Kesehatan Lebanon menuduh militer Israel secara sengaja menghalangi upaya evakuasi. Mereka mengklaim bahwa saat petugas medis berusaha mengevakuasi Khalil, militer Israel menembakkan granat suara dan amunisi tajam ke arah ambulans, sebuah tindakan yang disebut sebagai "pencegahan penyelesaian misi kemanusiaan."
Menanggapi insiden ini, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengecam keras tindakan tersebut, menyebut penargetan jurnalis dan penghambatan upaya bantuan kemanusiaan sebagai "kejahatan perang." Salam menegaskan bahwa Lebanon tidak akan tinggal diam dan berjanji akan membawa kasus ini ke hadapan badan-badan internasional yang relevan.
Sebelum kematian Khalil dikonfirmasi, militer Israel telah menyatakan menerima laporan mengenai dua jurnalis yang terluka akibat serangan mereka. Namun, mereka membantah tuduhan menghalangi tim penyelamat untuk mencapai lokasi kejadian. Insiden ini sekali lagi menyoroti kerapuhan perdamaian di kawasan Timur Tengah, di mana upaya diplomatik seringkali diwarnai oleh eskalasi kekerasan yang tak terduga.
