Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, secara tegas menyatakan kesiapan negaranya untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Pernyataan mengejutkan ini datang dengan syarat krusial: Israel menunggu "lampu hijau" dari Amerika Serikat sebelum melancarkan aksi militer yang diklaim akan "berbeda dan mematikan."
Dalam sebuah pernyataan video yang dilansir Aljazeera, Katz menegaskan bahwa militer Israel telah berada dalam kondisi siaga penuh, baik untuk pertahanan maupun serangan. "Target-target telah ditandai," ujarnya, mengindikasikan perencanaan yang matang. Ambisi Katz tidak main-main; ia bersikukuh untuk "menyelesaikan penghapusan dinasti Khamenei" dan "mengembalikan Iran ke Zaman Kegelapan dan Zaman Batu."

Ancaman tersebut diperinci dengan rencana penghancuran fasilitas energi dan listrik utama, serta pembongkaran infrastruktur ekonomi nasional Iran. "Kami sedang menunggu lampu hijau dari Amerika Serikat," tegas Katz, menekankan bahwa persetujuan Washington adalah kunci untuk melancarkan serangan yang ia sebut akan "lebih mematikan" dari sebelumnya.
Situasi ini menambah ketidakpastian dalam perundingan terkait konflik AS-Israel dan Iran, meskipun upaya mediasi dari Pakistan telah dilakukan. Perang yang telah melanda kawasan ini telah menewaskan ribuan orang, khususnya di Iran dan Lebanon, serta mengguncang stabilitas ekonomi global.
Sebelumnya, mantan Presiden AS Donald Trump pernah mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran. Namun, kebijakan blokade pelabuhan Iran tetap akan dilanjutkan oleh militer AS. "Saya telah mengarahkan militer kami untuk melanjutkan blokade dan, dalam segala hal lainnya, tetap siap dan mampu," kata Trump kala itu, seperti dilansir Al Jazeera.
Respons dari Iran tidak kalah tajam. Penasihat Ketua Parlemen Iran, Mahdi Mohammadi, menanggapi pengumuman sepihak Trump tersebut dengan menyatakan bahwa perpanjangan gencatan senjata itu "tidak berarti apa-apa" bagi Teheran.
Mohammadi menilai, perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan sepihak oleh Trump hanyalah taktik AS untuk mengulur waktu sebelum akhirnya melanjutkan serangan mendadak ke wilayah Iran. "Perpanjangan gencatan senjata Trump jelas merupakan taktik untuk mengulur waktu demi serangan mendadak. Saatnya bagi Iran untuk mengambil inisiatif telah tiba," tegasnya, seperti dikutip dari CNN.
