Internationalmedia.co.id – News – Di tengah gejolak yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah, sebuah percakapan telepon penting telah terjadi antara Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman (MBS), dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping. Panggilan ini, yang berlangsung pada Senin (20/4) waktu setempat, menyoroti kekhawatiran mendalam kedua pemimpin terhadap stabilitas regional dan global, dengan fokus utama pada keamanan maritim dan jalur pasokan energi vital dunia.
Menurut laporan yang dirilis oleh kantor berita Saudi Press Agency (SPA), kedua pemimpin membahas perkembangan terkini di Timur Tengah, serta implikasinya yang luas terhadap keamanan dan perekonomian, baik di tingkat regional maupun internasional. Pembicaraan juga mencakup upaya-upaya konkret untuk meredakan ketegangan yang ada dan memperkuat stabilitas kawasan, terutama terkait dengan keamanan maritim dan dampak ekonominya terhadap rantai pasokan global yang krusial.

Salah satu topik sentral yang mendominasi diskusi adalah Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi urat nadi bagi pasokan energi global. Selat ini belakangan menjadi titik panas akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Presiden Xi Jinping, seperti yang dilaporkan oleh media pemerintah Tiongkok, menekankan pentingnya menjaga "lalu lintas normal" melalui Selat Hormuz. "Navigasi normal melalui Selat Hormuz harus dipertahankan, ini demi kepentingan bersama negara-negara di kawasan dan komunitas internasional," tegas Xi kepada MBS, seperti dikutip televisi pemerintah CCTV. Tiongkok sendiri memiliki kepentingan besar dalam hal ini, mengingat posisinya sebagai mitra dagang utama negara-negara Teluk dan pembeli minyak utama Iran, yang sebagian besar diangkut melalui selat tersebut.
Situasi di Selat Hormuz semakin kompleks setelah Iran secara efektif membatasi aktivitas perlintasan sejak perang melawan AS-Israel pecah pada akhir Februari lalu. Sebagai respons, AS, atas perintah Presiden Donald Trump, memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak pekan lalu, dengan tujuan menekan Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz.
Pemerintah Tiongkok telah secara terbuka mengkritik langkah AS ini, menyebutnya sebagai tindakan yang "berbahaya dan tidak bertanggung jawab." Sementara itu, Presiden Trump menegaskan bahwa blokade tersebut tidak akan dicabut sampai kesepakatan tercapai dengan Teheran, mengklaim bahwa blokade laut yang diberlakukan AS itu "benar-benar menghancurkan Iran." Pembicaraan antara MBS dan Xi Jinping ini menggarisbawahi upaya diplomatik tingkat tinggi untuk menavigasi krisis yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dan keamanan global.
