Otoritas Iran telah melaksanakan eksekusi mati terhadap seorang pria yang dituduh membakar sebuah masjid besar di Teheran dan berkolaborasi dengan intelijen asing. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa Amir Ali Mirjafari, nama pria yang digantung, dinyatakan bersalah atas serangkaian tuduhan serius, termasuk memimpin jaringan mata-mata Israel. Eksekusi ini dilakukan di tengah ketegangan regional yang memanas.
Menurut laporan situs web Mizan Online, yang dikelola oleh otoritas kehakiman Iran, Mirjafari diidentifikasi sebagai "elemen bersenjata yang berkolaborasi dengan musuh". Ia dituduh memimpin upaya pembakaran Masjid Agung Gholhak di ibu kota dan menjadi dalang di balik "aktivitas antikeamanan jaringan Mossad" di wilayah tersebut. Selain itu, Mirjafari juga dituding bekerja sama dengan Israel dan Amerika Serikat selama gelombang unjuk rasa yang melanda Iran sebelum konflik bersenjata meletus.

Mizan Online menegaskan bahwa hukuman mati terhadap Mirjafari telah melalui proses banding dan dikonfirmasi oleh Mahkamah Agung Iran sebelum dieksekusi. Dasar hukum eksekusi ini didasarkan pada tindakan Mirjafari yang dianggap bertindak atas nama "rezim Zionis, pemerintah AS yang bermusuhan, dan kelompok-kelompok yang memusuhi keamanan negara" dengan membakar fasilitas umum, termasuk Masjid Agung Gholhak.
Insiden pembakaran masjid yang melibatkan Mirjafari disebut terjadi selama unjuk rasa besar-besaran di Iran pada akhir Desember tahun lalu. Awalnya, demonstrasi tersebut dipicu oleh kenaikan biaya hidup, namun dengan cepat meluas menjadi gerakan antipemerintah berskala nasional. Teheran secara konsisten menuduh pihak asing, termasuk Israel, AS, dan kelompok oposisi seperti Organisasi Mujahidin Rakyat (MEK) yang dilarang, sebagai dalang di balik kerusuhan tersebut.
Eksekusi Mirjafari bukan yang pertama. Dalam beberapa pekan terakhir, Iran telah melakukan serangkaian eksekusi mati terhadap individu-individu yang terkait dengan unjuk rasa tersebut. Situasi ini terjadi di tengah konflik bersenjata yang sedang berlangsung antara Iran melawan AS dan Israel, yang pecah sejak akhir Februari lalu. Konflik tersebut diawali oleh serangan gabungan Washington dan Tel Aviv terhadap Teheran, yang kemudian dibalas Iran dengan gelombang serangan rudal dan drone ke target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Meskipun gencatan senjata sementara selama dua minggu telah diumumkan pada 7 April, ketegangan di kawasan itu tetap tinggi.
