Internationalmedia.co.id – News – Sebuah babak baru dalam sejarah politik Hungaria telah dibuka menyusul kekalahan telak Perdana Menteri Viktor Orban dalam pemilihan parlemen. Setelah 16 tahun memimpin negara itu dengan tangan besi, Orban harus mengakui keunggulan rival barunya, Peter Magyar, seorang mantan orang dalam pemerintahan yang kini menjadi sensasi politik.
Berdasarkan hasil awal perhitungan suara, yang mencapai 46 persen, menunjukkan Partai Tisza yang dipimpin Magyar berhasil meraih 135 kursi dari total 199 kursi parlemen. Angka ini memberikan mayoritas dua pertiga bagi partai berhaluan tengah-kanan dan pro-Uni Eropa tersebut, secara signifikan mengungguli partai Fidesz milik Orban.

Meskipun perhitungan belum final, Orban tidak menunda untuk mengakui kekalahannya. "Hasil pemilihan, meskipun belum final, sudah jelas dan dapat dipahami; bagi kami, hasil ini menyakitkan namun tidak ambigu," ujar Orban, seperti dikutip dari internationalmedia.co.id. "Kami tidak lagi dipercaya untuk memegang tanggung jawab dan kesempatan untuk memerintah. Saya telah mengucapkan selamat kepada partai pemenang."
Pemilihan kali ini mencatat partisipasi pemilih yang luar biasa tinggi. Lembaga survei melaporkan antrean panjang di sejumlah tempat pemungutan suara di Budapest. Data menunjukkan 77,8 persen pemilih menggunakan hak suaranya, meningkat tajam dari 67,8 persen pada pemilihan empat tahun sebelumnya.
Berakhirnya era Orban setelah lebih dari satu setengah dekade berkuasa diprediksi akan membawa dampak besar, tidak hanya bagi Hungaria tetapi juga bagi Uni Eropa, Ukraina, dan lanskap geopolitik yang lebih luas.
Secara domestik, kemenangan Partai Tisza diharapkan membuka jalan bagi reformasi fundamental. Partai ini berjanji untuk memerangi korupsi yang merajalela serta memulihkan independensi peradilan dan berbagai lembaga negara yang selama ini dianggap telah terkikis di bawah pemerintahan Orban.
Di kancah internasional, kekalahan Orban kemungkinan besar akan mengakhiri peran Hungaria sebagai oposisi vokal di dalam Uni Eropa. Hal ini berpotensi membuka keran pinjaman senilai 90 miliar euro (sekitar 105 miliar dolar AS) untuk Ukraina yang dilanda perang, sebuah bantuan yang selama ini kerap diblokir oleh Orban. Selain itu, dana Uni Eropa untuk Hungaria yang sempat ditangguhkan oleh Brussels akibat kekhawatiran terhadap standar demokrasi, kini berpeluang dicairkan kembali.
Lebih jauh lagi, lengsernya Orban berarti Presiden Rusia Vladimir Putin kehilangan sekutu utamanya di Uni Eropa. Peristiwa ini juga diperkirakan akan mengirimkan gelombang kejutan ke kalangan sayap kanan Barat, termasuk di Gedung Putih, yang selama ini melihat Orban sebagai figur penting dalam gerakan konservatif global.

