Internationalmedia.co.id – News – Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) kembali menjadi sasaran serangan, dengan tiga personel terluka akibat ledakan misterius di wilayah selatan negara itu. Insiden ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang telah menyeret Lebanon ke dalam pusaran perang Timur Tengah, dipicu oleh ketegangan antara kelompok militan Hizbullah dan Israel.
Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, mengonfirmasi bahwa ledakan terjadi di dalam posisi PBB siang ini, melukai tiga penjaga perdamaian. Dua di antaranya mengalami luka serius dan segera dievakuasi ke rumah sakit. "Kami belum mengetahui asal ledakan tersebut," ujar Ardiel, menyoroti ketidakpastian di balik serangan ini. Pasukan Sementara PBB ini ditempatkan di dekat perbatasan, area yang dikenal sebagai garis depan konflik.

Lebanon telah terjerumus dalam konflik regional sejak 2 Maret, ketika kelompok militan Hizbullah, yang didukung Teheran, meluncurkan rentetan roket ke Israel. Aksi ini merupakan balasan atas serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sejak saat itu, Israel merespons dengan serangan besar-besaran di seluruh Lebanon, termasuk operasi darat di wilayah selatan. Otoritas Lebanon melaporkan 1.368 korban jiwa dalam sebulan terakhir permusuhan.
Situasi semakin diperparah dengan peringatan dari Kedutaan Besar AS di Lebanon. Mereka mengkhawatirkan bahwa Iran dan kelompok-kelompok sekutunya mungkin berupaya menargetkan universitas-universitas di negara tersebut, menambah daftar potensi sasaran di tengah gejolak. Militer Israel juga terus melancarkan serangan baru di Beirut selatan, mengklaim menargetkan "infrastruktur teror" setelah mengeluarkan perintah evakuasi. Wilayah tersebut, yang merupakan benteng Hizbullah, dilaporkan telah banyak dikosongkan penduduknya akibat serangan berulang dan peringatan evakuasi.
Seorang koresponden AFP melaporkan mendengar ledakan saat Kantor Berita Nasional yang dikelola pemerintah mengabarkan penggerebekan di area tersebut, mengindikasikan bahwa ketegangan dan aksi militer masih terus berlangsung tanpa henti di Lebanon.

