Jakarta – Sebuah seruan mendesak untuk menghentikan konflik bersenjata di Timur Tengah menggema dari dua pemimpin berpengaruh dunia. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dalam percakapan telepon terbaru mereka, sepakat menyerukan gencatan senjata segera di kawasan yang bergejolak tersebut. Demikian dilaporkan Internationalmedia.co.id – News.
Kantor berita AFP melaporkan bahwa kedua kepala negara tersebut melakukan sambungan telepon pada Jumat, 3 April 2026, dengan fokus utama pembahasan adalah situasi di Timur Tengah. Kremlin, melalui pernyataan resminya, menegaskan bahwa Putin dan Erdogan memiliki posisi yang sama mengenai urgensi gencatan senjata dan pentingnya pengembangan perjanjian perdamaian kompromi. Perjanjian tersebut, menurut Kremlin, harus mampu mengakomodasi kepentingan sah semua negara di kawasan itu.

Pernyataan Kremlin lebih lanjut menyoroti bahwa intensifikasi aksi militer di Timur Tengah telah menimbulkan konsekuensi negatif yang serius, tidak hanya di tingkat regional tetapi juga global. Dampak buruk tersebut mencakup gangguan signifikan pada sektor energi, perdagangan, dan logistik internasional.
Eskalasi konflik di Timur Tengah sendiri telah mencapai titik kritis sejak serangan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Insiden tersebut menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai respons, Iran membalas dengan serangkaian serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta beberapa negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan balasan ini tidak hanya menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga mengganggu pasar global dan jadwal penerbangan internasional.

